Penyelenggaraan National Green Hotel Award 2013

“Transformasi Industri Pariwisata Guna Menjawab Tuntutan Konsumen Dunia dan Alam Sekitarnya”

*Tim Juri National Green Hotel Award 2013

gambar 1Industri pariwisata di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Antara lain karena terdorong oleh kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6% (enam persen) yang tergolong paling dramatis di dunia berkat didukungnya pula stabilitas politik, keamanan dan iklim investasi di negeri ini yang semakin hari semakin baik dan kondusif. Sebagai contoh; data yang berhasil dihimpun ; di penghujung tahun 2012 jumlah wisata manca negara telah mencapai lebih dari 8 (delapan) juta orang dengan pertumbuhan sekitar 5,16% (lima koma enam belas persen) atau di atas angka pertumbuhan pariwisata global yang tumbuh 4% (empat persen) – data United Nations World Tourism Organization (UNWTO)

Pertumbuhan tertinggi terjadi dari tahun 2010 ke tahun 2013 dan diprediksi akan semakin meningkat di tahun-tahun berikutnya. Semakin membaiknya interkoneksi antar pulau di Indonesia turut memperkuat alasan ini, seiring dengan peningkatan pertumbuhan angkutan moda transportasi darat, laut, dan udara domestik maupun internasional menjadi salah satu faktor yang memungkinkan peningkatan kinerja sektor Industri Pariwisata tersebut terjadi. Perbaikan fasilitas dan kapasitas dari bandara, pelabuhan maupun terminal telah dicanangkan secara sistematis dan realisasinya akan terus dirasakan nyata di tengah masyarakat.

Di sektor perhotelan, sebagai salah satu penggerak utama industri pariwisata nasional, tingkat pertumbuhan pembangunannya merupakan ketiga tertinggi di Asia, yaitu hingga 28 ribu unit kamar hotel di akhir tahun 2012. Namun hal itu juga menimbulkan tingkat persaingan antar hotel yang cukup tinggi sehingga menekan tingkat hunian rata-rata hotel. Sementara perlu juga diwaspadai di tingkat dunia ada kecenderungan peningkatan apresiasi pada industri pariwisata yang ramah lingkungan. Menurut WTO (World Tourism Organization); pertumbuhan “Ecotourism merupakan yang tertinggi dalam industri pariwisata dunia, yaitu sekitar 5% (lima persen)

gambar 2Menurut “International Ecotourism Society lebih dari dua pertiga turis dari Amerika dan Australia serta lebih 90% turis dari Inggris menganggap proteksi lingkungan dan dukungan pada komunitas lokal merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus disediakan pihak Hotel. Sejumlah besar pelancong bisnis dan konvensi serta wisatawan yang sadar telah menaruh wacana keberlanjutan dan ramah lingkungan sebagai preferensi mereka. Bahkan ada gelombang mandat dari berbagai Pemerintah dunia yang mempersyaratkan karyawan mereka hanya boleh tinggal atau mengadakan pertemuan dan konvensi dalam suatu “Green Hotel. Tentunya cepat atau lambat kecenderungan dunia untuk lebih berpihak pada pembangunan dan pengelolaan hotel  yang lebih berkelanjutan akan pula berimbas mewarnai industri pariwisata dan perhotelan di Indonesia.

Menyikapi hal tersebut, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia berinisiatif untuk mempersiapkan dan meningkatkan kapasitas para pelaku industri perhotelan di Indonesia baik melalui edukasi maupun penyediaan instrumen lain yang dapat secara sistematis dan komprehensif mendorong terjadinya transformasi Industri Perhotelan di Indonesia ke arah yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Berbagai bentuk apresiasi awal telah dilakukan kepada para pelaku usaha hotel yang mempunyai komitmen menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan baik melalui program penghematan energi, penghematan air, penggunaan material ramah lingkungan maupun pengurangan dan pengelolaan  limbah yang lebih bertanggung jawab. Termasuk diantaranya juga adalah program pemberian penghargaan yang diselenggarakan dua tahun sekali kepada industri perhotelan di tanah air yang telah menerapkan standar dan kriteria berwawasan lingkungan, demi mendorong pengelola hotel agar senantiasa memiliki sikap, tindak melindungi, membina lingkungan hidup, serta meningkatkan pengelolaan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan

Kompetisi yang semakin ketat di antara bisnis perhotelan, terutama di kawasan regional ASEAN, tanpa disadari juga telah mendorong terciptanya standar hotel yang berwawasan lingkungan atau “Green Hotel Standard” di kawasan ASEAN. Indonesia, sebagai negara dengan potensi besar menjadi daya tarik wisatawan dunia, perlu mengikuti jejak rekan negara serumpun ASEAN tersebut, bahkan sebagai negara terbesar di Asean, dengan kekayaan dan keelokan sumberdaya alam dan budaya yang luar biasa, sudah sepantasnya kita memimpin perubahan ke arah pengembangan industri Pariwisata dan Perhotelan regional dan nasional yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan, berkomitmen pada kelestarian alam dan kesejahteraan sosial, disamping berupaya keras meningkatkan kinerja ekonomi dan komersial sektor pariwisata dan perhotelan itu sendiri.

Agar dapat maju mewakili Indonesia di tingkat ASEAN, secara efektif maka perlu diupayakan berbagai persiapan penting sejak awal antara lain melalui penyelenggaraan National Green Hotel Award yang didahului dengan penyelenggaraan serangkaian acara kegiatan sosialisasi pendahuluan yang intensif, seleksi yang ketat, kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

Demi menggerakkan inisiatif yang sangat penting ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Lingkungan Hidup, Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (BPP PHRI), Konsil Bangunan Hijau Indonesia (GBC Indonesia), Asosiasi Ahli Teknik Hotel Indonesia (ASATHI), Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI) serta Ahli Pengelolaan Air dan Pengamat Lingkungan, telah menggagas penyelenggaraan acara ini guna memberikan apresiasi dan penghargaan kepada para pelaku pengelola hotel yang mempunyai komitmen menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan.

Diharapkan program ini dapat menjembatani kesenjangan dalam perdebatan, wacana dan pengejawantahan gerakan hijau khususnya di sektor perhotelan di tanah air. Meski hanya berlangsung satu kali dalam dua tahun, namun diharapkan program ini dapat mengembangkan semua inisiatif yang telah terbentuk menjadi sebuah rencana strategis dan rencana aksi nasional dalam industri perhotelan yang selanjutnya dapat ditularkan pada industri sektor lainnya sehingga menjadi sebuah gerakan massal positif yang berpihak terhadap keberlanjutan dan lingkungan hidup.

Penyusunan Buku Panduan dan Pedoman Pelaksanaan Green Hotel di Indonesia” diawal tercetusnya ide gerakan ini, turut pula diprakarsai oleh ke 9 (sembilan) inisiator diatas. Diharapkan buku panduan ini akan menciptakan upaya yang lebih terpadu dalam meraih kesamaan ide pemikiran, kesepakatan pengambilan keputusan serta pelaksanaannya secara utuh dan berkelanjutan. Kedepan, tentunya akan masih akan banyak terjadi pembenahan, penyesuaian dan perbaikan yang diupayakan untuk menyempurnakan pedoman ini, agar hotel-hotel di seluruh Indonesia tanpa terkecuali dapat mengerti dan lebih berkomitmen dalam menerapkan kaidah “Green Hotel” secara lebih efektif dan lebih terukur. (deny/gbci)

*di edit oleh Resource GBC Indonesia, Februari 2013