Konservasi Air: Air Daur Ulang Untuk Keberlanjutan

Jakarta, 12 November 2012

Sumber daya air di Indonesia terhitung sebesar 6% di dunia atau sekitar 21% dari total sumber daya air di Asia Pasifik[i]. Namun penyebarannya yang tidak merata menyebabkan masih terdapat daerah-daerah yang kekurangan air bersih. Dari total ketersedian air di Indonesia, hanya 23% yang termanfaatkan. Dengan rincian sebesar 20% digunakan untuk memenuhi kebutuhan air baku rumah tangga, kota dan industri, sedangkan 80%nya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan irigasi i.

Pada daerah perkotaan di Indonesia seperti kota Jakarta, penyediaan air bersih merupakan aspek yang terus ditingkatkan dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Kebutuhan air bersih Jakarta sangat tinggi disebabkan oleh faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi peningkatan aktivitas dan jumlah penduduknya. Saat ini, dapat dikatakan bahwa kota Jakarta hanya mampu memenuhi 67% untuk kebutuhan air bersih penduduk. Hal ini menyebabkan perlu ada strategi khusus untuk menangani penyediaan air bersih di kota Jakarta.

Strategi ketersediaan air bersih merupakan prioritas yang perlu diperhatikan untuk mendukung pembangunan yang pesat serta keberlangsungan kehidupan dan kegiatan perkotaan. Untuk kota Jakarta, strategi penyediaan air bersih meliputi penambahan pasokan air baku serta pengembangan jaringan pelayanan air bersih hingga mampu melayani 100% kebutuhan penduduknya. Selain strategi ini, perlu dipertimbangkan juga pelaksanaan pengolahan serta pemanfaatan air daur ulang untuk diterapkan di kota Jakarta. Hal ini guna memenuhi kebutuhan air bersih sekarang dan di masa yang akan datang.

Gedung Hijau Hemat Air

Penggunaan air bersih pada gedung secara umum adalah untuk mengakomodasi aktivitas-aktivitas konsumsi, antara lain: meliputi konsumsi untuk minum, memasak, aktivitas kebersihan, sampai dengan aktivitas pemeliharaan seperti penyiraman tanaman dalam ruang dan irigasi untuk lansekap. Pasokan air bersih yang digunakan berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan  sumur tanah dalam. Gedung yang ramah lingkungan tidak hanya terkait fisik bangunan, tetapi antara lain juga terkait penggunaan air bersih gedung dalam mendukung aktivitas penggunanya. Salah satu aspek yang diperhatikan dalam Perangkat Penilaian untuk gedung ramah lingkungan, khususnya GREENSHIP adalah kategori penghematan air bersih gedung.

Penghematan air bersih dapat ditinjau dari beberapa hal seperti terdapatnya sistem kontrol dan monitoring air, penggunaan alat keluaran air yang hemat air, penggunaan air daur ulang hingga pada penggunaan air alternatif seperti air hujan.

Upaya Penghematan Air Bersih Gedung (Potensi Sumber Air Bersih)

Kesadaran akan terbatasnya air dan pentingnya penghematan air mendukung berkembangnya pilihan dalam menghemat air. Kampanye hemat air merupakan salah satu upaya dalam melibatkan pengguna gedung untuk turut serta berperilkau bijak mengonsumsi air. Selain menanamkan kesadaran mengenai pentingnya menghemat air, pengurangan junlah penggunaan air juga dapat didorong oleh pihak manajemen gedung dengan pengadaan alat keluaran air yang efisien, meliputi penggunaan fitur hemat air seperti dual flush pada water closet dan autostop pada keran air, penggunaan air daur ulang untuk menggantikan penggunaan air bersih seperti pada penyiraman taman atau make up water cooling tower, dan pemanfaatan air hujan, air sungai atau air waduk sebagai alternatif sumber air bersih .

Pemanfaatan Air Daur Ulang Pada Gedung

Limbah cair perkantoran berasal dari hasil kegiatan pengguna gedung, seperti toilet, wastafel, dan tempat pencucian. Air limbah dapat digunakan lagi setelah melewati proses daur ulang, sehingga mengurangi penggunaan air bersih dan mengurangi pencemaran air yang  berbahaya bila dibuang langsung ke lingkungan. Daur ulang air limbah dapat dimanfaatkan antara lain untuk keperluan flushing, irigasi dan make up water sistem pendingin, namun bukan untuk air minum.

Sayangnya, saat ini masih belum banyak gedung yang menerapkan adanya instalasi pengolahan air kotor menjadi air daur ulang yang dapat digunakan lagi. Hal ini masih sulit dilaksanakan karena masih mudahnya gedung memperoleh air bersih dari sumber utama (PDAM) dan besarnya biaya investasi yang harus dikeluarkan untuk instalasi fasilitas daur ulang. Padahal, hal ini merupakan sebuah konsep menarik untuk rencana di depan dengan beberapa pertimbangan, antara lain: pertama untuk kawasan perkantoran tertentu adanya kewajiban tarif baik disalurkan ataupun tidak untuk air limbah ke instalasi pengolahan air limbah kota yaitu Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah (PD. PAL JAYA). Tentunya dengan membuat instalasi pengolahan mandiri, maka gedung perkantoran akan menghemat biaya tersebut. Kedua adalah penghematan biaya tagihan air karena sebagian dapat ditutupi dari air daur ulang.

Studi Kasus untuk gedung penerapan penghematan air yaitu pada Gedung Utama Kementerian Pekerjaan Umum yang baru saja beroperasi sudah sejak awal mendesain bangunannya untuk menggunakan air daur ulang. Air daur ulang digunakan untuk penyiraman taman, make up water cooling tower dan flushing yang didukung dengan intalasi pengolahan limbah cair kapasitas sebesar 150 m3/hari. Digabungkan dengan penggunaan alat keluaran yang hemat air, gedung ini mampu mengurangi penggunaan airnya dari standar pemakaian air untuk kantor 50 Liter/orang per hari[ii] menjadi 9 Liter per orang per hari.

Pada gedung perkantoran Sampoerna Strategic Square, diketahui adanya penggunaan air daur ulang yang bersumber dari air pembuangan kantor dan komersil seperti janitor, wastafel, urinal, wudu yang diolah dan dimanfaatkan kembali. Total konsumsi air gedung tersebut adalah 20.818 m3. Penggunaan air daur ulang ini mampu menutupi 20% dari total kebutuhan air bersih gedung, sebesar 4141 m3 menggunakan air daur ulang untuk penyiraman taman dan make up water cooling tower.

Penggunaan air daur ulang yang diterapkan sebagai upaya menghemat air akan berpengaruh dalam menjaga kestabilan kualitas dan jumlah dari suplai air bersih serta menyelamatkan lingkungan kita. Akan tetapi perlu diingat bahwa adanya penghematan air karena penggunaan water fixtures yang hemat air dan penggunaan air daur ulang akan sia-sia bila tidak dilengkapi oleh perilaku pengguna gedung yang hemat air.

Ditulis oleh Ika Putri Dermawan

Diedit oleh Anggita


[i] Hartono. 2010. Dalam:  Samekto, C. Ewin Sofian Winata. 2010. Potensi Sumber Daya Air di Indonesia.

[ii] SNI-03-7065-2005 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing