Rumah Sakit dengan pendekatan Ramah Lingkungan dan Sehat sebagai Solusi Untuk Merespon Pandemi COVID-19

Kesehatan dan keselamatan dari tenaga medis yang merawat pasien yang telah terinfeksi COVID-19 layak menjadi perhatian. Tertanggal 1 April 2020, update terbaru dari Harian Kompas menyebutkan bahwa di Jakarta, 84 orang tenaga medis atau tenaga kesehatan positif terinfeksi virus Corona 1. Angka mengalami kenaikan dari hari sebelumnya yang menunjukkan angka 81 orang yang terinfeksi virus Corona. Hal inipun akhirnya memicu kebijakan pemerintah, seperti yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dengan memberikan penginapan hotel untuk tenaga medis, dan baru-baru ini akan ada kebijakan dari Presiden Joko Widodo yang telah meneken Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) yang berisikan upaya menjamin kesehatan masyarakat dan tenaga medis rumah sakit serta kebijakan mengenai perekonomian negara 2. Hal ini menunjukkan perhatian negara pada kesehatan dan keselataman masyarakat terutama untuk para tenaga medis dan tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam memerangi wabah virus Corona. Dalam kebijakan Perppu tersebut selain akan menjamin kesejahteraan para tenaga medis dan kesehatan, kebijakan tersebut juga berisi pembelian dan peningkatan kapasitas dan kinerja fasilitas-fasiltas penunjang tenaga medis seperti APD, Hand Sanitizer, hingga melakukan Upgrading fasilitas pelayanan rumah sakit rujukan COVID-19, termasuk Wisma Atlet.

Dalam salah satu publikasi terbaru di Journal of Medicine yang ditulis oleh Na Zhu, dkk; menyebutkan bahwa ukuran dari virus Corona adalah 0.06 – 0.14 Microns 3. Dengan kata lain partikel dari virus Corona itu lebih kecil dari PM 2.5. Dalam situs resminya, WHO menyebutkan bahwa infeksi pernafasan dapat terjadi transmisi melalui Droplet dalam berbagai ukuran. Apabila Droplet berukuran >5-10 Microns maka disebut sebagai Respiratory Droplet, namun bila berukuran < 5 Microns maka disebut sebagai Droplet Nuclei 4. Penularan dari COVID-19 secara utamanya terjadi karena adanya interaksi langsung dan Respiratory Droplet, dan dari 75 ribu kasus di China menyebutkan penularan melalui Airborne belum ada laporan hingga saat ini 5. Transmisi Airborne berbeda dengan transmisi melalui Droplet, karena merujuk pada ada tidaknya mikroorganisme pada Droplet Nuclei yang berukuran <5 Microns, yang dapat bertahan cukup lama di udara 4.

Namun WHO menyebutkan bahwa adanya kemungkinan virus Corona dapat ter-transmisi melalui Airborne dalam kondisi /keadaan tertentu dan setting prosedur dan perawatan di rumah sakit yang dapat menyebabkan timbulnya Aerosol 4. Dalam penelitian lain menyebutkan bahwa dalam suatu prosedur setting peralatan laboratorium, dimana peralatan tersebut dapat menyemburkan Aerosol, maka ditemukan terdapat kandungan virus Corona dalam Aerosol tersebut yang dapat bertahan hidup hingga 3 (tiga) jam di dalam suatu laboratorium yang terkontrol kondisinya 6. Merespon penelitian tersebut, WHO menolak dan menyebutkan bahwa prosedur dari setting peralatan yang dapat menyemburkan Aerosol yang digunakan pada penelitian tersebut diatas, tidak merefleksikan keadaan ketika manusia batuk atau bersin 4. WHO-pun menyebutkan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai ada tidaknya kandungan virus Corona di udara dalam ruangan isolasi pasien positif Corona 4. Apabila dilihat dari ukuran virus Corona yaitu 0.06-0.14 Microns dan metode transmisi Airborne yang dapat terjadi apabila terdapat kandungan microorganisme dalam Droplet Nuclei yang ukurannya <5 Micron, jelas bahwa ukuran virus Corona lebih kecil dibandingkan ukuran Droplet Nuclei, namun untuk kemungkinan ada tidaknya kandungan virus Corona dalam Droplet Nuclei perlu adanya penelitian lanjutan (menurut WHO).

Merespon hal diatas, sembari menunggu kejelasan dari penelitian mengenai transmisi dari virus Corona apakah dapat atau tidaknya melalui transmisi Airborne, alangkah bijaknya kita bersama – sama (terutama yang bergerak di bidang rumah sakit yang merawat pasien positif Corona), bersikap lebih perhatian dan waspada terhadap segala kemungkinan yang ada. Dari penelitian diatas selain harus memberikan perlindungan pada masing-masing individu tenaga medis, perlu pula adanya fasilitas pendukung yang dapat menjaga keselamatan tenaga medis, yaitu ketersedian dan kelayakan ruangan isolasi dan bangunan rumah sakit yang mendukung.

Salah satu komponen penting dalam suatu ruangan/bangunan adalah sistem tata udara dan sebagian besar bangunan di kota besar telah menggunakan AC. Apabila AC di dalam ruangan/bangunan menggunakan AC yang tidak sekaligus menghembuskan udara segar ke dalam ruangan, dan apabila benar virus Corona dapat menular melalui transmisi Airborne, maka akan dengan mudah jumlah virus di dalam ruangan isolasi akan terakumulasi. Hal ini terjadi ketika seseorang telah mengidap penyakit COVID-19, akan terus mengeluarkan Droplet Nuclei yang mengandung virus Corona sehingga konsentrasi di dalam udara akan terus naik. Hal ini akan berimbas pada penyebaran penyakit di dalam ruangan isolasi dengan sistem tata udara atau AC yang tanpa sirkulasi udara segar yang standar. Hal ini juga akan menjadi salah satu penyebab utama penularan penyakit COVID-19, terutama untuk tenaga medis yang akan periodik masuk ke ruangan isolasi tersebut.

Udara segar yang dihembuskan ke ruangan dengan terdapat konsentrasi dari berbagai partikel maupun mikroorganisme akan menggantikan udara kotor di dalam ruangan. Perlu dicermati pula bahwa udara segar yang dihembuskan ke dalam ruangan sebelumnya haruslah udara bersih yang tidak mengandung partikel berbahaya atau kualitasnya sesuai dengan ambang batas yang ditentukan Ruangan/Bangunan dapat menggunakan sistem filterisasi seperti penggunaan HEPA (High Efficiency Particulate Air) dan MERV (Minimum Efficiency Reporting Value) yang dapat menyaring udara ruangan. Filter juga perlu digunakan pada exhaust dari sistem tata udara yang digunakan agar lingkungan sekitar tidak terpapar udara kotor yang mungkin mengandung partikel-partikel berbahaya dari dalam bangunan. Penerapan komprehensif dari introduksi udara segar dan penggunaan sistem filter seperti HEPA dan MERV filter, haruslah menjadi kewajiban mutlak, terutama bagi rumah sakit rujukan pasien COVID-19, untuk menghindari penularan COVID-19 ke tenaga medis yang merawat pasien positif COVID-19.

Penerapan dari bangunan hijau sebagai bangunan sehat utamanya rumah sakit, menjadi salah satu solusi untuk menghindari terjadinya serangkaian permasalahan yang telah dipaparkan diatas. Bangunan sehat pada hakikatnya merupakan salah satu filosofi utama dari bangunan hijau. Apabila ditinjau dari filosofinya, konsep bangunan hijau sangat mengedepankan konsep Triple Bottom Line (Profit, Planet ,and People), yang memberikan manfaat secara ekonomis, mengurangi dampak negatif ke lingkungan, dan menjamin kesejahteraan dan kesehatan (Health and Wellbeing) manusia yang beraktifitas di dalamnya.

Di setiap perangkat penilaian bangunan hijau yang disusun GBC Indonesia mulai untuk Bangunan Baru, Bangunan Terbangun, dan Ruang Interior secara komprehensif membahas keseluruhan isu dan permasalahan yang timbul pada praktik perencanaan, konstruksi hingga operasional suatu bangunan. Mulai dari Tepat Guna Lahan, Efisiensi Energi dan Konservasi, Konservasi Air, Sumber dan Siklus Material, Kesehatan dan Kenyamanan Dalam Ruang hingga Manajemen Lingkungan Bangunan 7-9. Perangkat penilaian bangunan hijau mengkaji keseluruhan permasalahan diatas untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai penerapannya dan manfaatnya dari segi ekonomi, lingkungan dan sosial, tak terkecuali untuk bangunan Rumah Sakit. Gerakan perubahan yang digagas dimulai dari inisiatif – tindakan nyata yang paling sederhana diikuti perubahan mindset – persamaan persepsi hingga penerapan praktik terbaik (best practice) sesuai dengan perkembangan teknologi dan aplikasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, dengan memprioritaskan pula pada hidup sehat dan produktif.

Perangkat Penilaian Bangunan Hijau GREENSHIP untuk Bangunan Baru Versi 1.2, Bangunan Terbangun Versi 1.1 dan Ruang Interior Versi 1.0 dapat diaplikasikan untuk Rumah Sakit. Panduan tersebut tidak hanya berisikan tujuan dan tolok ukur yang harus dicapai untuk memperoleh sertifikasi bangunan hijau, melainkan juga dilengkapi dengan strategi dan langkah-langkah untuk mencapainya secara efisien. Secara komprehensif berikut matrik per-kriteria dari Perangkat Penilaian Bangunan Hijau GREENSHIP yang berkaitan dengan isu dan permasalahan diatas. Matrik ini dapat dijadikan sebagai masukan atau salah satu solusi mencegah meningkatnya penularan COVID-19 di dalam bangunan, terutamanya di dalam rumah sakit rujukan untuk pasien positif virus Corona.

 

Penulis : Ichfan Kurniawan (Rating Development GBC Indonesia)

 

Referensi :
[1] Ryana Aryadita Umasugi.2020. 84 Orang Tenaga Medis di DKI Positif Corona. KOMPAS 1 April 2020. Diakses pada 1 April 2020.
[2] Addi M Idhom.2020. Daftar Kebijakan Jokowi Tangani Pandemi Corona dan Isi Perppu Baru. Tirto.id 31 Maret 2020. Diakses pada 1 April 2020.
[3] Na Zhu, Dingyu Zhang, Wenling Wang. 2020. A Novel Coronavirus from Patients with Pneumonia in China, 2019. The New England Journal of Medicine.
[4] World Health Organization.2020. Modes of Transmission of Virus Causing COVID-19: Implications or IPC Precaution Recommendations. www.who.int/news-room/commentaries/detail/modes-of-transmission-of-virus-causing-covid-19-:-implications-or- ipc-precaution-recommendations/. Diakses pada 1 April 2020.
[5] Ong SW, Tan YK, Chia PY, Lee TH.2020. Air, surface environmental, and personal protective equipment contamination by severe acute respiratiory syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV-2) from a symptomatic patient. JAMA. 4 Maret 2020.
[6] Neelte van Doramalen, Dylan H. Morris, Myndi G. Holbrook. 2020. Aerosol dan Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1. The New England Journal of Medicine.
[7] Rating Development Team. 2014. Panduan Penerapan Perangkat Penilaian Bangunan Hijau GREENSHIP Bangunan Baru Versi 1.2. Green Building Council Indonesia.
[8] Rating Development Team. 2017. Panduan Penerapan Perangkat Penilaian Bangunan Hijau GREENSHIP Bangunan Terbangun Versi 1.1. Green Building Council Indonesia.
[9] Rating Development Team. 2012. Panduan Penerapan Perangkat Penilaian Bangunan Hijau GREENSHIP Ruang Interior Versi 1.0. Green Building Council Indonesia.