The Future Philosophy – Campus Design with Green Consideration – Surya Institute, 31 Januari 2012

Konsil Bangunan Hijau Indonesia berkesempatan memberikan paparan singkat tentang pentingnya mendesiminasi gerakan hijau hingga ke tingkat fasilitas pendidikan tinggi setara universitas guna penyebaran informasi yang seluas-luasnya tanpa batas. Waktu yang berharga ini diberikan oleh Prof. Yohannes Surya Ph.D, seorang tokoh pendidikan Indonesia sekaligus selaku Chairman dari Surya Institute, sebuah institusi pendidikan yang terbaik yang dimiliki Indonesia guna mengenalkan lebih luas dan populer tentang keilmuan pengetahuan dan pendidikan Matematika, sehingga lebih mudah dipahami, menyenangkan untuk dipelajari dan didalami serta berguna bagi kehidupan dalam mendukung “life skill” dan kemampuan “workforce” dalam praktik keseharian. Selain itu, institusi mulia ini mempunyai visi untuk membentuk tenaga sumber daya manusia yang terampil sehingga berkemampuan untuk berkontribusi penuh dalam proses pembangun dan siap bersaing dalam komunitas lokal dan internasional.

Di dalam menyediakan sumber daya manusia yang terampil dan siap menghadapi masa depan, sudah barang tentu memerlukan fasilitas sarana dan prasarana yang cukup dan memadai agar seluruh aspirasi, ide, kreatifitas serta aktualisasi diri dapat tersalurkan dengan baik, transparan, dan terakomodir dengan baik. Bukan hanya sampai disitu, hal yang akan ikut mempengaruhi pembentukan suatu kualitas sumber daya manusia adalah gaya dan pola proses belajar dan mengajar, peralatan pendukung yang disediakan, teknologi yang dipakai serta kondisi yang diciptakan untuk kelancaran  proses belajar dan mengajar di dalamnya.

Saat ini dan untuk waktu yang akan datang, lingkungan belajar dan mengajar akan lebih dinamis dan bergerak dalam beraktivitas. Perubahan generasi saat ini menuntut konektivitas yang kontinu dalam proses belajarnya guna mencari tahu lebih dalam tentang dasar suatu hal yang akan didalaminya. Akses teknologi komputer dan koneksi internet serta nirkabel menjadi suatu kebutuhan primer, begitu pula dengan peralatan yang dibutuhkan. Kebutuhan peralatan akan membutuhkan kebutuhan tempat dan ruang untuk mewadahinya.

Disinilah peran seorang desainer seperti arsitek dan desain interior dibutuhkan untuk dapat memahami jenis aktifitas yang akan diwadahi, perilaku penghuni, atmosfer yang terbentuk sehingga menentukan besaran dan luasan ruang yang akan didesain.

Begitu pula dengan penyediaan teknologi yang akan diterapkan untuk menunjangnya, karena tidak pernah ada satu solusi desain dapat menjawab semua jenis kebutuhan. Solusi dituntut untuk berubah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi serta hambatan yang akan muncul di dalam proses perjalanannya.

Teknologi sebagai jawaban akhir menjadi penting untuk berubah dan menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna, namun pengguna juga harus senantiasa menambah pengetahuan dan kemampuannya untuk dapat senantiasa pula mengikuti perkembangan teknologi tersebut.

Pola pikir seorang siswa juga akan dituntut berubah agar dapat menjalankan aplikasi teknologi yang senantiasa berkembang dan tidak pernah menunda. Kolaborasi dalam kerja tim melalui proses belajar dan mengajar menjadi suatu kewajiban agar suatu masalah dapat dipahami dan dicari solusinya hanya dengan satu persamaan persepsi, namun melibatkan kerjasama semua anggota tim dari berbagai latar belakang.

Pada akhirnya seluruh aspek yang dibicarakan di atas akan mempengaruhi desain dan bentuk (desain) suatu ruang dan seni bangunan (arsitektur) secara keseluruhan. Mulai dari ruang publik hingga ruang yang membutuhkan tingkat privasi yang tinggi. Mulai dari penggunaan unsur alamiah hingga unsur artifisial dalam membentuk suatu desain ruang menjadi sebuah bangunan.

Pendekatan “bangunan hijau” masih menjadi satu-satunya solusi untuk menjawab semua permasalahan ruang dan bangunan dimasa datang. Karena dengan melalui “bangunan hijau”lah, keserasian hubungan manusia dengan alam masih dapat terjaga. Bangunan Hijau senantiasa mengikutsertakan trilogi hubungan manusia-lingkungan fisik-budaya mulai dari perancangan awal hingga suatu desain dihuni dan digunakan selain faktor “engineering” yang ramah terhadap lingkungan. Di negeri yang beriklim tropis lembab seperti Indonesia, kondisi alam, iklim, perilaku cuaca  menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan.

Didalam mendesain suatu fasilitas pendidikan tinggi, penerapan teknologi yang ringan mencakup teknologi bahan bangunan material hingga dalam penyediaan teknologi informasi dan komunikasi yang multi fungsi, fleksibel, sederhana, mudah dan cepat teraplikasikan, memiliki resistensi yang tinggi serta tersedia luas di pangsa pasar sangat mempengaruhi. Citra, bentuk dan morfologi bangunan akan ikut berubah seiring dengan teknologi yang dapat diterapkan dengan tidak meninggalkan kebudayaan aslinya. Dukungan industri yang menghasilkan produk ramah lingkungan juga sangat ditunggu untuk merespon permintaan dan pengetahuan konsumen yang akan berkembang dan semakin selektif. Lahan terbuka sebagai tempat berpijak serta beraktivitas diluar bangunan akan sangat dibutuhkan keberadaannya menjawab kebutuhan hidup generasi selanjutnya yang makin fleksibel. Perlu ada batasan-batasan yang jelas agar setiap kegiatan yang beragam tidak sampai mengganggu kegiatan beragam lainnya. Batasan tersebut juga diperlukan agar tingkat ruang aktifitas memperoleh perlindungan dari tingkat kebisingan dan polusi yang makin meningkat. Daya dukung alam memang dapat menjawab semua permasalahan, namun keterbatasan dukungannya akan membatasi ruang gerak manusia jika kita sebagai penghuni utamanya enggan untuk berpikir lebih arif terhadap lingkungan dalam beraktivitas.

Jaringan konektivitas masa depan tidak hanya dibutuhkan di dalam sistem komputerisasi kegiatan dan sistem suatu bangunan untuk memudahkan seseorang berintegrasi dengan yang lain sewaktu berkomunikasi, namun jaringan konektivitas antar ruang (sirkulasi dan aksesbilitas) yang akan dirancang menjadi tolok ukur penting untuk meningkatkan pencapaian pengguna ruang dan bangunan sehingga mempermudah kegiatan yang terjadi di dalamnya serta menghindari pengggunaan kendaraan bermotor yang berujung pengurangan jejak karbon di lingkungan. Dunia memang telah berubah dan akan terus berubah seiring dengan gaya hidup yang dijalankan penghuninya yaitu manusia.

“The modern movement , at its point on inception over a century ago, was an attempt at re-connecting us with the natural world – light, air, sun – underpinned by the notion that all buildings should address biological and social needs”…..quotes by Dr. Nirmal Kishnani.

GBC Indonesia

1 comment

  1. Artikel yang menarik sekali, memang dalam menghadapi perkembangan jaman kita juga dituntut untuk peka terhadap kemajuan teknologi, sehingga dapat efektif dan efisien dan berguna hingga masa yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *