Sebagai persembahan kepada bangsa, Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia) akan menyelenggarakan acara terpentingnya di tahun mendatang yaitu GREENRIGHT 2012 dengan tujuan untuk mengajak kalangan industri, profesional, akademik, pengembang, kontraktor, pemerintah dan masyarakat umum termasuk anda semua untuk bersama-sama menjadi “agen perubahan” demi tujuan hari esok pembangunan bangsa kita kearah hijau dan berkelanjutan.

Kata perubahan (changing) menjadi sangat awam ditelinga kita. Perubahan menjadi sahabat kita sehari-hari, dalam setiap sudut kehidupan, termasuk perubahan iklim akibat pemanasan global yang kian mengkhawatirkan ditahun-tahun mendatang sebagai respon dari perubahan perilaku kita dalam memperhatikan lingkungan sewaktu kita mengisi pembangunan. Perubahan iklim telah membuat kita harus juga berubah suka tidak suka untuk melindungi keberlanjutan planet tempat kita berpijak dan yang akan kita wariskan kesejahteraannya bagi anak cucu kita mendatang.

Green Building Council Indonesia lahir di Indonesia dengan mempunyai peran sebagai agen perubahan. Melalui acara GREEN RIGHT 2012, kami mengajak Bapak/Ibu dari kalangan industri untuk ikut berpartisipasi dalam acara kami. Acara yang akan kami adakan tepatnya pada tanggal 11-13 April 2012 mendatang ini dikemas sangat berbeda dengan acara lain yang pernah dijumpai sebelumnya, karena para pelaku industri tidak akan hanya sekedar mempromosikan produk yang akan mereka dipamerkan, namun seraya memberikan kesempatan bagi para pelaku industri agar mampu mengenalkan lebih dekat pengetahuan akan produk dan inovasinya yang ramah lingkungan kepada masyarakat dari berbagai latar belakang. Selain itu para pelaku industri dapat menunjukkan “kelasnya” sebagai pelaku yang berpikiran maju dan mampu menyambut tuntutan perubahan generasi serta mengenal pengetahuan mengenai tuntutan pasar lebih dalam dimasa mendatang yang akhirnya diharapkan dalam waktu yang bersamaan dapat merangsang kegiatan industrinya untuk mengadakan riset dan inovasi lebih dalam lagi guna menghasilkan produk-produk yang makin handal, ramah lingkungan dalam penggunaannya serta dapat bersaing sehat dengan produk – produk dari luar tanpa harus menjadi tamu di negara sendiri.

Bila kita melihat jeli makna dari dilangsungkannya acara mulia ini, pastilah akan terpikir bahwa sebenarnya kita masih diberikan kesempatan, waktu dan tempat untuk memperbaiki gaya hidup, pola produksi dan konsumsi kita terhadap suatu hasil karya manusia guna dijadikan amunisi untuk tetap hidup bertahan beradaptasi menghadapi perubahan-perubahan iklim dan efek-efek buruk yang mengikutinya. Oleh karenanya, pergunakan dengan baik kesempatan ini!

Setelah kami pelajari, banyak bertanya, dan mengadakan beberapa riset serta observasi di lapangan, kami menemukan masih banyaknya dari para profesional, kontraktor, pengembang yang masih kurang mengenal dan paham bagaimana membedakan produk yang ramah lingkungan dengan produk yang tidak ramah lingkungan. Kadang kita berpikir bahwa hal tersebut terjadi karena kesalahan semata dari seorang penjual ataupun pramuniaga yang mungkin kurang menguasai dalam mempelajari mengenai product knowledge. Namun ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan yaitu kurangnya penyebaran informasi produk dan jasa secara aktif, sosialisasi, transfer keilmuan serta penerapan teknologi yang hanya berjalan sepihak, hingga akhirnya sulit untuk dapat dijangkau manfaatnya di kalangan masyarakat awam. Akibat terburuknya adalah produk-produk ramah lingkungan yang menjadi unggulan tersebut, justru malah dijual dan terkenal di negara orang lain yang akhirnya keuntungannya pun dirasakan hanya sepihak.

Di sinilah baru dirasakan pentingnya peranan para profesional seperti arsitek dan desainer interior untuk terlebih dahulu memahami memperkaya pengetahuan tentang referensi produk ramah lingkungan yang unggul agar selanjutnya mereka dapat mengajarkannya kepada para pengguna jasa mereka untuk hanya menggunakan produk dalam negeri yang juga hanya ramah terhadap lingkungan. Sekaligus menjelaskan keuntungan yang akan diperoleh dalam jangka waktu panjang walaupun dengan sedikit investasi awal, sehingga terciptalah suatu proses transfer keilmuan dan pengetahuan.

Lebih dari itu, GREENRIGHT juga merencanakan konsep Student Day, dimana telah merangkul hampir kurang lebih sebanyak 28 perguruan tinggi dan sekolah-sekolah di pelosok negeri untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang bangunan hijau sejak sedini mungkin mulai dari bangku sekolah. Memperkenalkan praktik-praktik terbaik anak bangsa, sehingga mereka tidak akan bimbang untuk mulai menentukan pilihan serta penilaian terhadap suatu produk hasil industri, sebagai referensinya kelak dalam membangun serta merekomendasikannya kembali kepada kerabat sekitar di kemudian hari. Subjek yang akan diperhatikan tak luput adalah para mahasiswa dari berbagai jurusan terkait, yang khususnya akan diberikan kesempatan untuk terlibat dalam penciptaan produk sederhana ramah lingkungan sesuai dengan pengalaman dan kemampuannya sendiri, melalui serangkaian agenda sayembara.

Sedangkan melalui ajang pameran akbar (exhibition), bersama dengan para industri pelopor gerakan hijau, kami akan mulai menularkan kebiasaan positif ini (“Be one who is first who concern about the people and the planet”) yang akan lebih ditekankan penerapannya kepada bangunan baru, tak terlepas untuk bangunan bertingkat tinggi, yang akan semakin marak trennya kedepan sejalan dengan makin tingginya ego para perancang bangunan. Pasalnya, proses pembangunan bangunan bertingkat tinggi ini memakan waktu lebih lama daripada proyek residensial, terlebih bangunan yang merupakan kategori mega proyek dan multi struktural.    

Hal lain yang menjadi perhatian, tentang pendalaman akan pengetahuan bahan bangunan serta teknik cara membangun yang diharuskan tersedia demi menjawab permasalahan hingga ke pihak-pihak yang terkait langsung di lapangan, selain dipertajam sewaktu masih digodok dalam konsep perancangan. Dalam tahap ini pula, dukungan dan kesiapan dari para industri akan sangat ditunggu untuk merespon kebutuhan pasar dan hak publik akan kebutuhan produk yang ramah lingkungan.

Hasil yang diharapkan setelah selesai mengunjungi pameran ini diharapkan, mereka akan langsung dapat mengerti dan mengenal lebih dalam akan karakteristik, serta keunggulan yang ditawarkan oleh produk yang dipamerkan. Sehingga semakin cepat dikenalnya suatu produk ramah lingkungan dipasaran, akan semakin cepatnya “Green Movement” ini digulirkan melalui pemeringkatan produk ramah lingkungan yang hingga saat ini masih kami susun dan klasifikasikan daftarnya melalui Green Listing.

Selain pameran dan eksibisi, akan disuguhkan seminar ber-seri dalam GREENRIGHT ini dimana kami kelompokkan menjadi tiga track seminar dengan topik yang berbeda sesuai dengan isu hangat terkini yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan tren green building di berbagai sektor pembangunan, antara lain; isu Green Building itu sendiri. Sebagai induk dan dasar pemikiran yang harus dahulu dipahami sebelum mulai diaplikasikan secara spesifik ke berbagai sektor industri yang berkeinginan untuk dijadikan contoh teladan di masyarakat.

Lalu akan diikuti dengan isu hangat seputar Green Hospitality, dimana kami patut menginformasikan secara luas gerakan ini bersamaan dengan himbauan dan instruksi yang telah dilansir oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, untuk bersama-sama menerapkan kaidah-kaidah perkehidupan dan membangun dengan hijau di semua sektor pariwisata serta pendukungnya termasuk didalamnya industri Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) demi terciptanya Pariwisata Yang Berkelanjutan ditingkat nasional maupun ditingkat ASEAN.

Isu lain yang tidak kalah penting bagi kami untuk mengupasnya adalah tentang Green Hospital, dikarenakan perlunya penerapan hal ini didalam industri rumah sakit, farmasi dan laboratorium sebagai wadah penyedia jasa industri kesehatan. Hal yang menjadi perhatian mulai dari inisiatif penghematan pemakaian energi, air, material, dan manajemen pengolahan sampahnya sendiri serta yang terpenting yaitu terciptanya kenyamanan dan kesehatan udaranya sendiri baik bagi pengguna di dalam bangunan maupun di sekelilingnya.

Keikut sertaan perusahaan-perusahaan di Indonesia akan menjadi kontribusi yang sangat besar dan bermanfaat bagi negeri ini yang sedang dalam proses membangun kearah berkelanjutan.

Dengan mengangkat tema “Adapt to Sustain” guna memberikan pesan kepada pengunjung bahwa semua manusia harus tergerak untuk berubah beradaptasi sesuai dengan kemauan dan kemampuannya sendiri melalui berperilaku hijau agar dapat hidup selaras dengan alam tanpa membebaninya.

Di negara-negara maju pameran serupa seperti ini telah mendapat dukungan penuh yang sangat signifikan dari para industrinya sebagai kewajiban untuk mempersiapkan dukungan lingkungan di masa datang dan serta menyesuaikan dengan kebutuhan generasi yang akan datang melalui inovasi-inovasi produk mereka.

Apabila dirasa suatu produk sudah tidak dapat menjawab permintaan pasar pada suatu masa, maka mereka dengan cepat akan ditinggalkan dan digantikan oleh produk-produk yang lebih dapat bertahan dan diterima. Seiring dengan hal tersebut, dituntut pula wawasan para perlaku industri untuk terus diperluas agar dapat juga terus mengedukasi pasar tentang suatu produk yang dihasilkan. Produk yang hijau akan membentuk desain yang hijau yang tentunya akan diakhiri dengan pengaruhnya terhadap hidup yang hijau.

Kedepan, pemerintah juga akan menerapkan Green Procurement, dimana akan lebih selektif dalam menentukan kebijakan guna mendasari proses produksi dan pengadaan suatu produk untuk sebuah kegiatan belanja di semua instansi. Lalu Green Construction, untuk mengatur praktik-praktik penyelenggaraan konstruksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan yang sudah barang tentu membutuhkan dukungan pasar industri yang lebih siap, tersedia serta mudah diakses guna memajukan kegiatan perkenomian. Terakhir merupakan gabungan dari keduanya yaitu Green Construction Procurement, dimana transformasi konstruksi Indonesia akan beragendakan untuk menggairahkan perkembangan sektor konstruksi yang berkelanjutan di tahun depan. Melalui pendekatan strategis dan pendayagunaan sumber daya konstruksi nasional maupun global. Diantaranya melalui pemberian rencana pemberian insentif dari pemerintah dan dukungan untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi usaha maupun pemangku kepentingan sektor konstruksi lainnya dengan pengembangan semua potensi yang sudah ada secara kreatif.

Himbauan terhadap para industri dalam menghasilkan produknya semakin gencar dilakukan, jangan hanya mementingkan dalam pengujian faktor lingkungannya saja namun perlu dihimbau harus sampai pada pembuktian terhadap efek ke penggunanya juga yang perlu diperhatikan. Terutama faktor kesehatan dan keamanan bagi penggunanya ke depan karena biasanya efek buruknya baru dapat dirasakan setelah dalam jangka waktu yang lama. Sering kali dijumpai, produk yang ramah terhadap lingkungan namun dalam jangka waktu yang panjang masih dapat mengancam kesehatan penggunanya.

Di setiap sesi seminar yang disusun, juga akan turut diperkaya oleh beberapa pembicara lokal dan internasional dari berbagai kalangan yang berbeda latar belakang, mempunyai serangkaian penghargaan dan sepak terjang yang tidak diragukan lagi dalam mengisi pembangunan. Ide dan gagasan yang mereka akan bagi, adalah contoh studi kasus yang terjadi nyata di lapangan beserta dengan cara pengambilan keputusan untuk menentukan solusi, guna memberikan gambaran yang lebih kongkret tentang penyelesaian permasalahan yang kita temui di atas. Untuk itu, kami harapkan para industri juga dapat menjadi sponsor bagi pembicara-pembicara yang akan berpartisipasi. Jika dirasakan mempunyai calon kandidat yang kompeten untuk mengisi salah satu track diacara kami, kami akan sangat menghargainya. Sebagai penghargaannya, para industri yang ikut terlibat dapat juga sekaligus mempromosikan produknya bersamaan dengan berlangsungnya acara ini, sehingga begitu banyaknya manfaat yang dapat kita petik dan teladani ketika kita selesai mengikuti serangkain seminar ini.

Dengan adanya serangkaian tempat yang telah disediakan melalui GREENRIGHT 2012, mari kita bangun Indonesia untuk lebih baik, dengan bergabung bersama gerakan hijau kami, daftarkan diri anda sekarang juga untuk ikut berperan penting dalam meningkatkan preferensi pasar yang lebih tinggi di tanah air. Jangan ragu lagi karena teman-teman di barisan depan sudah menunggu anda untuk bergabung. Bersiaplah untuk berubah untuk sebuah keberlanjutan yang pasti.  Save the date! and JOINT US TO BE PART OF THE NEXT..!

Selamat Tahun Baru 2012 bagi kita semua. Jadikanlah resolusi anda di tahun depan untuk membangun negeri ini lebih maju, sehat dan berperilaku hijau didalam mengisi pembangunannya

Green Building Council Indonesia

Pelaksanaan Penghargaan “National Green Hotel Award 2011” telah berakhir. Para pemenang juga telah diumumkan. Acara yang dipelopori oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ditujukan sebagai program pemberian penghargaan ini kepada industri perhotelan di tanah air yang telah menerapkan standar dan kriteria berwawasan lingkungan, demi mendorong pengelola hotel agar memiliki sikap, tindak melindungi, membina lingkungan hidup, serta meningkatkan pengelolaan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah menyukseskan misi dari Kementerian ini dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan.

Perubahan paradigma akhir-akhir ini juga ikut menyukseskan dan telah berhasil mentransformasi pasar agar lebih menghargai lingkungan dan menyelamatkan bumi secara simultan dengan keberlangsungan industri yang tanpa disadari cenderung menyebabkan degradasi pada lingkungan.

Kompetisi akan semakin ketat di antara bisnis perhotelan, terutama di kawasan regional ASEAN, telah mendorong terciptanya standar hotel yang berwawasan lingkungan atau Green Hotel Standard di kawasan ASEAN. Karena, sejak tahun 2008, ASEAN telah memberikan penghargaan kepada hotel-hotel di semua negara yang dipandang memenuhi standar tersebut.

Oleh karenanya sudah sepatutnya kita perlu mengikuti jejak ASEAN untuk berkomitmen beriniasitif dalam industri perhotelan sebagai salah satu fenomena positif dalam investasi pembangunan kepariwisataan yang mendatangkan devisa dan citra baik bagi bangsa. Persiapan wakil Indonesia untuk dapat maju di tingkat ASEAN perlu dibentuk sejak dini didasarkan pada seleksi yang ketat, kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

Penyelenggaraan “National Green Hotel Award” ini adalah suatu langkah nyata yang sistematis untuk menyeleksi kandidat hotel yang akan diajukan ke kancah di tingkat ASEAN tersebut.

Demi menggerakkan inisiatif mulia ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Pimpinan Pusat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPP PHRI), Konsil Bangunan Hijau Indonesia (GBC Indonesia), Trihita Karana Provinsi Kotamadya Bali, Asosiasi Ahli Teknik Hotel Seluruh Indonesia (ASATHI), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Ahli Pengelolaan Air dan Lingkungan serta Green Radio – Jakarta 89.2 FM telah menggagas penyelenggaraan acara ini guna memberikan apresiasi dan penghargaan kepada para pelaku pengelola hotel yang mempunyai komitmen menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan. Harapannya kedepan dapat menjadi program yang menjembatani kesenjangan dalam perdebatan, wacana dan pengejawantahan gerakan hijau di tanah air. Apapun alasannya, yang jelas kebutuhan penerapan secara maksimal tentang konsep hijau di tanah air sudah sangat mendesak. Mengingat tingkat pemanasan global saat ini sudah juga semakin tinggi di Indonesia.

Meskipun akan hanya berlangsung satu kali dalam dua tahun, program ini di masa mendatang akan berupaya keras mengembangkan semua inisiatif yang telah terbentuk menjadi sebuah rencana strategis dan aksi serta laporan nasional dalam industri perhotelan yang selanjutnya dapat ditularkan ke industri sektor lainnya menjadi sebuah gerakan massal positif yang berpihak terhadap lingkungan.

Dasar penilaian yang dipakai dalam penyelenggaran penilaian ini, diinspirasikan dengan mengidentifikasi sektor kinerja operasional bangunan sebanyak 75 persen yang mencakup: inisiatif efisiensi, praktik konservasi dan pengelolaan di semua unsur seperti lahan, energi, air, material, udara dan kesehatan dalam ruang, serta manajemen lingkungan sekitar.  

Sektor 25 persen lainnya yang tak luput dibahas merupakan komitmen pengelola dan pengguna bangunan untuk memantau manajemen operasionalnya seperti standar minimum untuk tindakan dan operasional hotel, tim pelaksana-pemelihara-pemeriksa setiap detail inisiatif yang dilakukan, kebijakan penggunaan-pengadaan dan perawatan instalasi mesin-produk dan jasa yang diterapkan, tersedianya program pelatihan, kerjasama ekonomi dengan masyarakat dan organisasi lokal, serta praktik industri lokal yang berkelanjutan.

Penerapan prinsip hotel yang ramah lingkungan memerlukan gabungan dari kedua bagian tersebut, sehingga diharapkan akan tercipta upaya integralisasi untuk persamaan dalam setiap ide pemikiran – pengambilan keputusan serta pelaksanaannya di lingkungan binaan secara utuh dan berkelanjutan. Perlu digaris-bahawi, apresiasi juga diberikan setinggi-tingginya kepada para pelaku industri perhotelan yang kini sudah banyak berinisiatif terutama mereka yang merupakanInternational Chain’ dimana mereka telah memiliki struktur serta mengimplementasikan pedoman inisiatif Green Hotelnya sendiri seperti halnya telah tersedianya Green Team yang bertugas mengkoordinasikan sejumlah kegiatan internal seputar usaha konservasi di segala bidang. Tak luput di dalamnya juga banyak dibahas masalah seputar :

  • Pelaksanaan manajemen sumber daya di dalam bangunan,
  • Pelatihan dan pendidikan,
  • Kontrol penggunaan energi, air, dan keperluan hotel sehari-hari,
  • Manajemen limbah dan sampah,
  • Keselamatan dan keamanan,
  • Tingkat pelayanan, serta
  • Kegiaran Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan.

Namun seperti yang ditemukan ketika kami mengikuti serangkain acara Green Tourism Award 2011 di Sumatera Selatan, disadari sepenuhnya, masih banyak pembenahan dan perbaikan yang harus kami susun dalam pedoman penilaian Green Hotel ini kedepan agar hotel-hotel di seluruh Indonesia tanpa terkecuali dapat sempurna mengerti dan memahami gerakan hijau tentang bagaimana kaidah Green Hotel yang sesungguhnya dapat diterapkan.

Untuk menentukan siapa saja yang layak mewakili ke tingkat Asean melalui penilaian ini ternyata sungguh tidak mudah, mekanisme selektifitas pelaksanaan Green Hotel Award 2011 kami harus terapkan untuk merangsang keikutsertaan seluruh peserta secara sukarela tanpa ada paksaan dari pihak manapun, kegiatan itu meliputi :

  1. Penyusunan kriteria Green Hotel Award (oleh tim penyusun).
  2. Penyusunan formulir dan kuosioner – untuk self assessment (oleh tim penyusun).
  3. Sosialisasi kepada peserta (dimana tahun ini baru hanya diusulkan khususnya untuk hotel bintang empat dan hotel bintang lima). Diikuti dengan penyampaian kuosioner self assessment sebagai penilaian awal kepada hotel bintang empat dan bintang lima di wilayah Jabodetabek dan di luar wilayah Jabodetabek ke sejumlah 290 hotel yang ada di seluruh Indonesia.K
  4. Kemudian tahap pengembalian formulir yang dibatasi waktu pengembaliannya.
  5. Lalu Tim mengevaluasi formulir (self assessment) yang dikembalikan peserta bersamaan denganTim Kelompok Kerja dan Tim Juri melakukan pencatatan dan pemeriksaan terhadap dokumen yang dikembalikan.
  6. Setelahnya Verifikasi dan penentuan hotel yang akan dinilai, dimulai dengan Tim Juri menentukan hotel-hotel yang akan dikunjungi sesuai dengan hasil evaluasi self assessment, dimana diperoleh 32 hotel yang layak dikunjungi.
  7. Kegiatan yang terpenting adalah sewaktu tahap survei dan studi kunjungan untuk verifikasi dan cross check di lapangan yang berlangsung kurang lebih hingga empat bulan lamanya.
  8. Dilanjutkan dengan evaluasi dan tabulasi penilaianTim Juri dan Pendamping.
  9. Setelah diadakan penilaian, Tim Juri bersepakat untuk menentukan passing grade bagi setiap peserta yang tidak boleh kurang dari angka 60 dari skala 30 – 95 untuk layak mendapatkan peringkat. Dari semua peserta yang berada dalam skala passing grade, ditetapkan. Peringkat 1: 90-95, Peringkat 2: 84-89, Peringkat 3: 80-84, Peringkat 4:  70-79 dan Peringkat 5: 60-69. Selain peringkat penghargaan, para pemenang juga mendapatkan piagam penghargaan dan plakat. Namun bagi peserta yang belum mencapai passing grade terendah, kami tetap memberikan apresiasi yang tinggi terhadap inisiatif anda berupa piagam penghargaan peserta.
  10. Diakhiri dengan penentuan kandidat 10 Hotel terbaik yang akan diusulkan ke ASEAN Green Hotel Award melalui rapat penentuan pemenang pada konsinyering 26 November 2011.

Dari semua peserta yang berhasil lolos dan berada dalam skala nilai passing grade, kami tentukan hanya akan ada kandidat 10 Hotel terbaik yang berhak mendapatkan penghargaan “National Green Hotel Award 2011″ dengan klasifikasi nilai tertinggi bagi hotel berbintang empat dan lima ini untuk menjadi wakil Indonesia di ajang yang lebih tinggi. Namun bagi peserta yang belum menang, kami tetap memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap inisiatif dan upaya yang telah dilakukan berupa piagam penghargaan dan plakat, dengan tetap menjadi calon kandidat untuk proses penilaian “National Green Hotel Award” ditahun-tahun mendatang. 

Kategori Pertama:

10 Pemenang National Green Hotel Terbaik, diberikan kepada :

1.

Matahari Beach Resort & Spa – Bali

2.

(Discovery) Kartika Plaza – Bali

3.

Holiday Inn Resort – Batam

4.

Angsana Bintan

5.

Melia Benoa – Bali

6.

Losari Spa Retreat and Coffee Plantation – Central Java

7.

The St. Regis Resort – Bali

8.

Melia Bali Villa & Spa Resort

9.

The Dharmawangsa – Jakarta

10.

Gran Melia – Jakarta 

Kategori Kedua:

14 Pemenang National Green Hotel lainnya diberikan kepada :

11.

Banyan Tree Ungasan Resort – Bali

12.

Banyan Tree Bintan

13.

Maya Ubud – Bali

14.

Novotel Palembang Hotel & Residence

15.

Alila Villas Uluwatu – Bali

16.

Shangri La Jakarta

17.

Novotel  Bogor

18.

Hyatt Regency – Yogyakarta

19.

Melia Purosani – Yogyakarta

20.

Sahid Jaya Lippo Cikarang – Bekasi

21.

Jogjakarta Plaza

22.

Bintan Lagoon

23.

Nusa Dua Beach – Bali

24.

Grand Swiss Bell Hotel – Medan

Kami berharap agar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Kementerian sektor terkait lainnya, agar tetap melanjutkan dan mendorong inisiatif gerakan hijau ini. Sebab hasil-hasil yang telah kita tuai hingga saat ini bermanfaat sekali untuk pemecahan problematika bumi ke depan. Oleh karena itu bersegeralah semua pelaku pembangunan bertransformasi dalam perilaku dan implementasi dengan berpihak terhadap lingkungan. 

Selamat kepada para pemenang, selamat juga kepada para seluruh peserta National Green Hotel Award 2011.

(Resource, GBC Indonesia 2011) 

Green Lifestyle with Bank Permata

A Small Green Act with Big Environmental Impact

Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia) commemorates with Bank Permata in conducting seminary series with the theme “Green Today for Better Tomorrow” as a part of the organizing Health, Safety and Environment (HSE) weeks. They were held at eight (8) cities around Indonesia (Jakarta, Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, Makasar, Denpasar and Tanggerang) from 16 November – 12 December 2011. Most bankers participated on those events. They eager to know what exactly does green mean.  To answer what is green actually, we need to find the supporting issues surround that. Being ‘green’ doesn’t carry that much weight when it’s just a ‘label’ and you are being ‘forced’ to change. Everything is voluntary: just optional if you would like to have better living. It is like being ‘on’ a diet. We say, “I’m on a diet”, as if we can get ‘off’ at any time. And more often than not, we do. But if you change your lifestyle to eat better and exercise, the chances are; you’ll stay fit and be healthier, saver, cleaner and influence your world for sure.

Being ‘green’ is like that. It’s a lifestyle change; not a program that you get ‘on’ and ‘off’. If you think of it as a better living, healthier living, frugal living, it will be easier for you to change to a different and better like the lifestyle. The responses would be very varied, based on our individual reports. That’s why the progress has been relatively getting slow on the environment front both here and around the world. In the past two years, especially since the landmark Copenhagen climate change conference failed to result in a deal despite the presence of the world’s top leaders.

Most experts agree that global warming is the keyword of all which will take significant human effort to stop it and reverse its effects. The results come from centuries of unsustainable usage of earth’s natural resources and overuse of harmful chemicals. The issue is so big that it may seem that there’s nothing you can do to help. However, this is not the case. By making small, everyday changes to your lifestyle, you can truly help the fight against these global enemies.

Most of the respondents in eight (8) cities already practice the green mantras; reuse, reduce and recycle. One goes to the trouble of sorting her trash –plastic bottles, cans and paper – to be given to trash picker or recycled although they came back to recollecting this trash into the same bin after the sorting done. Meanwhile, other makes compost from they own organic waste. Recycling everything at home and the office are common activities, too. Another colleague says they always turn off the faucet when brushing her teeth. We as a shopaholic, also bring our own shopping bag when doing the groceries, no more plastic bags. In several cities like Jakarta, they even exist and gone the extra mile on green living. Not only composting and recycling but they also ride a bike more often than they drive – has set up solar panels for the water heater and applies the metering to conserve the energy use for instance.

It would be wonderful also if everyone could be applied on multipliers using public transportation or even buy a hybrid car someday to save the environment from high levels of polluting emissions for instance, but they are not yet in most people’s budget. Instead, making a few adjustments to your driving needs can help increase your fuel efficiency and thereby decrease the amount of gas you are burning. Combine errands as much as possible, and if you have several stops in a large shopping area, try walking from one to the other rather than driving. Instead of driving to the gym to run on a treadmill, get outside and do your running there.

In office daily practice, reusable products of every kind are generally a good idea also. The less resource spent on harmful products, the lower the impact on the environment. By cutting down on disposable-making industries, we can lower the amount of harmful gas put into the environment by factories. Try looking for products made from recycled goods, like paper cups, toilet paper, and even furniture.

At home, simple changes can lead to serious energy savings, as well as money savings for you. Replacing incandescent light bulbs with florescent ones or even LED can reduce energy consumption by 60% for your lamps. Checking your air conditioning and heater filters each year and replace them if necessary. Not only will this seriously reduce energy usage, it will also keep you and your family from breathing in air sent through a dirty filter. Moreover, plants particularly trees beside gardening is a healthy activity and a fun way to make your home or community beautiful, then it can absorb carbon dioxide and provide us with clean oxygen to breathe.

Some experts believe that a contributing factor to global warming is that we have cut down so many of our trees and forests for industry. If you can, use organic soil and fertilizer, as harmful chemicals may damage the environment, and actually add to the greenhouse gas problem

How can changing your consume pattern affect to the temperature of the planet? Believe it or not, studies show that it may be the biggest thing you can do. The export industry is one of the largest polluters on the planet, in nearly every way possible. Methane outputs from livestock transportation use are a considerable contributor to the greenhouse effect, while the factories and plants themselves are responsible for tremendous air and water pollution and severe deforestation. Try buying your products and your food from local, small farms for example. These usually have less impact on the environment, and also may share your concerns about global warming. Many small farms engage in carbon-offsetting practices, to counteract any damage to the environment they do incur. By supporting local businesses that believe in sustainable practices, you will be making it known and marketable that these factors matter and should be encouraged.

One of the greatest gifts afforded to every adult citizen in a democracy is the ability to vote. With your voting power, you can change the course of your town, your country, and your planet. Use your chance to vote in politicians and measures that are passionate and honest about environmental policy and supporting foundations and organizations that protect forests and encouraging sustainable logging practices. Voting for global-warming concerned issues and candidates costs you nothing, is easy to do, and can help instigate change at a level beyond individual gestures. Be sure to think twice before voting and support for any new development projects in your home area unless there is clear indication that they will be using sustainable products and processes.

Industry isn’t our evil, whatever some newspaper sited. Yet many companies, big and small, have shown that they will use the cheapest and easiest measures available, even if they add to global warming.

Whenever you can, encourage industry that is sustainable and safe. It may seem like a small gesture, but if enough people make it, the market will follow suit, and corporations will know that the best way to get your money is to through green practices.

The most important things is an environmental education embedded with students at early years to be early awareness as greater responding leads to greater responsibility and action which will played role in our thinking. It is impossible to ignore – we live in a country where people live in a city that suffers from chronic environmental pressure, fuelled both by poverty and development. We live in a country where people live with the consequences of every conceivable man-made environmental disaster.

We don’t need to be perfect; become the popular, public figures or celebrities and you don’t need to throw out the all “green” keys to your world.  Try and do the best based on your own abilities. By making tiny choices that heal rather than hurt, you can make a difference in fighting global warming. Most of us will never get memorials to our achievements, but that doesn’t mean they are worthless. Small, everyday steps can truly make you a superhero for the planet.

I am pretty sure there are many more such a acts of green taking place, whether done by individuals, groups or businesses. Unfortunately, the governments appears to be the very last ones to realize or even understand, that people do care about the environment they live in – for the sake of future generations. Saving planet is no longer the business of superheroes and governments, today everyone’s invited. Ordinary people are taking the initiative to help conserve the environment. The fashion industry has also caught a green fever with the emergence of “eco-fashionista”, creating from sandals to handbags and fast down from branding designer until considered to street labels.

Green as a real sustainable solution which usually takes time to be implemented because often require something dramatically effort that people always afraid and avoid to do. That’s the “changing in habit in lifestyle”. But that doesn’t make them impossible. Many environmental organizations have had to change their strategies in creating commercial approach and accessible programs at theirs marketing. But the substantial amount of activity is taking place at the grassroots level.

Ordinary people are getting together and coming up with the solutions based on available resources. They think it’s quite cool to be environmentally conscious and urged them to have apart in it.

To be green isn’t a religious message, but this is a human appeal. Since like that, going green is not making a big extreme change in your life, it’s just a choice of life in doing the little things that have a great impact on our world. It’s a butterfly effect. “You may think it doesn’t matter what one person does or doesn’t do; but it matters more than you think.”. So ! Make your choice now ! don’t be late !

(Resource2011)

GREEN TOURISM AWARD 2011

Kotamadya Palembang – Sumatera Selatan , Tahun 2011

GREEN HOTEL INITIATIVE – ‘ASTASENI’

Penghematan energi menjadi isu yang sering muncul belakangan ini berkaitan dengan sudah semakin menipisnya permukaan bumi (Global Warning).

Berbagai bentuk penghematan dilakukan untuk meminimalisir penggunaan energi sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan agar berkelanjutan untuk masa depan. Selain itu munculnya masa dimana manusia dominan menguasai semua sektor industri, seakan mempunyai jangkauan global terhadap kekuatan dan intensitasnya dalam mengeksploitasi sumber daya alam ini. Sebagai reaksi, banyak timbul keraguan berbagai pihak akan kemampuan manusia untuk mempertahankan kelestarian lingkungannya.

Industri perhotelan merupakan salah satu investasi pembangunan kepariwisataan yang menjadi bagian integral dari pembangunan Nasional. Pembangunannya yang begitu pesat memberikan dampak dan membawa pengaruh signifikan terhadap lingkungan sekitar, terlebih dalam penggunaan energi pada kegiatan operasionalnya sehari-hari dengan membawa kecenderungan penurunan daya dukung lingkungan akibat  lemahnya manajemen pengelolaan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut maka lingkungan hijau berkelanjutan yang digali dengan menjunjung tinggi kearifan lokal dan potensi sumber daya setempat menjadi salah satu solusi dalam pembangunan kepariwisataan yang harus dikembangkan dengan tidak lupa memperhatikan aspek-aspek lainnya seperti pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan dan pelestarian lingkungan bangunan berserta daya dukung alamnya.

Seiring dengan misi mulia tersebut, penerapan “Green Hotel” akan sangat dirasakan pentingnya, khususnya dalam memberikan dukungan, langkah nyata terhadap gerakan Green Building yang selama ini sering didengungkan. Untuk saat ini, penghargaan lebih difokuskan kepada “Green Hotel Initiative” karena dalam proses evaluasi di akhir penilaian, masih ditemukan sebagian besar hotel yang belum dapat memahami dengan benar terhadap parameter pendekatan gerakan “Green Hotel” yang digunakan.

Penghargaan ini akan berkesinambungan diadakan setiap dua tahun sekali, sebagai pengejewantahan dari dukungan langkah nyata yang dikemas dalam  bentuk penghargaan yang diberikan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Konsil Bangunan Hijau Indonesia untuk para pelaku usaha hotel yang telah mempunyai atau baru akan memulai kesadaran dan komitmen tinggi dalam penerapan prinsip-prinsip ramah lingkungan yang sudah tentu menjunjung tinggi keseimbangan antara alam dan manusianya. Bersamaan dengan itu, penghargaan ini bertujuan untuk mendorong pemilik dan pengelola hotel agar berpartisipasi aktif meningkatkan pengelolaan lingkungan dimulai dari lingkungan hotelnya masing-masing.

Tahun ini, tema yang coba diangkat untuk mendasari kegiatan penjurian Green Hotel Initiative ini dinamakan “ASTASENI”, sebuah kiasan lama dari bahasa sansekerta yang memiliki makna “Pelurus Yang Unggul”. Diharapkan tema ini dapat menjadi pedoman penggunaan yang dapat “meluruskan” kearah persamaan persepsi tentang arti sesungguhnya hidup secara hijau dan ramah terhadap lingkungan sekitar sehingga mempermudah proses perubahan (transformasi) melalui edukasi pasar dan penggunannya kearah perkehidupan yang ramah lingkungan.

Dasar penilaiannya diinsipirasi dengan mengidentifikasi dari sektor kinerja operasional  bangunan melalui kegiatan inisiatif efisiensi seluruh aspek bangunan, konservasi dan pengelolaan disemua unsur seperti halnya; lahan, energi, air, material, udara dan kesehatan dalam ruang serta manajemen lingkungan sekitar.

Tidak ketinggalan dari sektor komitmen pengelola dan pengguna bangunan (manajemen),  ikut memainkan peranan penting didalam ranah ini seperti halnya; standar minimum yang digunakan, tindakan dan operasional hotel, tim pelaksana-pemelihara-pemeriksa setiap detail inisiatif yang dilakukan,  kebijakan penggunaan-pengadaan dan perawatan instalasi mesin-produk dan jasa yang diterapkan, penyedian program edukasi dan pelatihan, serta kerjasama ekonomi dengan masyarakat maupun organisasi lokal secara berkesinambungan.

Penerapan Green Hotel” memerlukan gabungan seutuhnya dari kedua bagian tersebut, sehingga diharapkan akan tercipta upaya integralisasi demi persamaan dalam setiap ide pemikiran – pengambilan keputusan  serta implementasi pada lingkungan binaan.

Hasil akhir yang kami harapkan setelah terlaksananya kegiatan mulia ini adalah;  Terlaksananya pengelolaan hotel dengan pemanfaatan pelestarian sumber daya alam dan lingkungan yang berkelanjutan;   Peningkatkan pelayanan hotel kepada masyarakat dalam pemanfaatan teknologi tepat guna yang berwawasan  lingkungan;   Serta aktualisasi praktek-praktek terbaik  anak bangsa yang dapat dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan lebih banyak pihak sehingga mempunyai efek multiplier di semua kalangan. Yang sudah dipastikan akan terbuka kesempatan untuk mendorong dan mewujudkan langkah-langkah inisiatif lainnya.

Identifikasi dan pengelompokan melalui pengkategorian diperlukan untuk proses pemantauan penerapan prinsip-prinsip hijau yang berhasil diterapkan pada suatu bangunan Hotel dimasa datang sehingga tidak hanya sekedar menjadi “peryataan” semata.  Untuk itu para pemenang dikelompokkan sesuai dengan usaha dan pencapaian kriteria yang dipersyaratkan dan telah dilaksanakan, yaitu

“Pemenang dengan PERINGKAT”

NO

NAMA HOTEL

PERINGKAT

JUMLAH

1

 NOVOTEL

Emas

3 Daun

2

ARYADUTA

Perak

2 Daun

3

HORIZON

Perak

2 Daun

4

ASTON

Perak

2 Daun

5

JAYAKARTA

Perunggu

1 Daun

6

ROYAL ASIA

Perunggu

1 Daun

Para pemenang diapresiasikan dengan pemberian peringkat, piagam penghargaan dan plakat (trophy)

“Penghargaan sebagai PESERTA”

Penghargaan ini diberikan setinggi-tingginya kepada para peserta lainnya sebagai apresiasi panitia, yang disadari sepenuhnya dalam penilaian ini masih ditemukan sebagian besar peserta hotel yang belum mengetahui parameter dari gerakan hijau yang ramah lingkungan, sehingga sulit ditentukan oleh angka penilaian (dibawah standart passing grade), namun kami tetap mengapresiasikan inisiatif mereka untuk mempersiapkan serta menerapkan gerakan ini di kemudian hari.dimana tim juri tidak melihat kepada untuk “Hotel Melati” secara masing-masing, melainkan dikelompokkan menjadi satu kategori yaitu “Penghargaan sebagai Peserta :

Penghargaan tersebut diberikan kepada ;

NO

NAMA HOTEL

1

BUDI

2

ANIDA

3

PRINCESS

4

GRAND DUTA

5

DUTA

6

SWARNA DWIPA

7

BEST SKIP

Sebagai tambahan bahan evaluasi lapangan dari tim juri, masih ditemukan pula sejumlah hotel yang tidak dapat dinilai dikarenakan kondisi dan alasannya masing-masing, diantaranya :

NO

NAMA HOTEL

ALASAN

1

PENINSULA

Dalam masa kontruksi dan rencana (belum dapat dinilai)

2

SANJAYA

Belum menerapkan konsep hijau pada Hotel

3

RIAN COTTAGE

Tidak ada pengawasan

Namun yang utama, kegiatan ini bukan hanya untuk menemukan siapa yang layak dipandang untuk dapat dan pantas dalam menerima penghargaan, namun jauh lebih penting adalahnya terciptanya kondisi dimana prinsip keseimbangan ekologi dapat menjadi landasan semua pihak dalam sikap dan perilaku kesehariannya.

Mari budayakan hidup hijau sejak dini, jangan tunda hingga hari esok demi masa depan anak cucu kita. (Resouces GBC Indonesia – 2011)

GlassTech – 28 November 2011. Asia-Pacific Green Building Seminar merupakan acara yang dilaksanakan berdampingan dengan acara GlassTech Asia Expo 2011. Seminar ini merupakan kolaborasi antara Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia) dengan Singapore Green Building Council (GBC Singapore) yang difasilitasi oleh pihak Conference & Exhibition Management Services Pte. Ltd ( CEMS) selaku penyelenggara GlassTech Asia 2011. Seminar ini mengundang anggota-anggota dari GBC Indonesia dan GBC Singapore, juga peserta pameran serta para pemangku kepentingan.

Acara dibuka oleh sambutan Bapak Nyoto Irawan selaku Steering Board dari GBC Indonesia. Bapak Nyoto menekankan, bahwa sebagai negara yang berkomitmen untuk menurunkan emisi dan juga anggota dari G20, maka Indonesia harus bergerak cepat dan bersungguh-sungguh dalam melakukan gerakan hijau. Bangunan ramah lingkungan merupakan salah satu jalan untuk dapat menurunkan emisi, dan tentu saja upaya ini dijalankan secara serius oleh GBC Indonesia. Sambutan selanjutnya disampaikan Mr. Ng Eng Kiong, Wakil Presiden Pertama Singapore Green Building Council Indonesia.

Seminar ini menghadirkan Priyanto Hadi Sasono selaku keynote speaker dengan topik rancangan bangunan hijau dengan desain pasif melalui selubung bangunan untuk penghematan energi. Sebagai pembicara tamu, juga hadir Bapak Pandita dari Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan DKI Jakarta. Bapak Pandita memaparkan rencana Pemda DKI Jakarta mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) mengenai Bangunan Ramah Lingkungan. Pergub direncanakan pengesahannya bulan Desember 2011.

Dari GBC Singapore, Ms. Jaya Tan Jia Yee memaparkan Singapore Green Building Code of Conduct, dan terakhir Ms. Vidhi Yaduvanshi dari Frost and Sullivan memberikan informasi mengenai kesempatan yang didapatkan dengan melalui penerapan konsep bangunan ramah lingkungan.

Seminar ini dihadiri oleh kurang lebih 100 peserta, dan diakhir acara masing-masing peserta mendapatkan sertifikat tanda kehadiran. Kolaborasi antara GBC Indonesia dan GBC Singapore diharapkan akan mempererat hubungan antara Green Building Council di Asia Pasifik.

by: Anggita