Indonesia akan menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi mengenai delta pada tanggal 21-24 November 2011 bertempat di Jakarta Convention Center. Pertemuan ini akan menghadirkan para pemimpin terkemuka, pembuat kebijakan di pemerintahan pusat/federal dan lokal, akademisi dan ilmuwan, praktisi, pengusaha, mahasiswa dan mereka yang memiliki minat yang kuat terhadap delta baik dari dalam maupun luar negeri.

Diharapkan kegiatan ini akan memperkuat  posisi Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Bumi Rio+20 di Rio de Janeiro, Brazil bulan Juni  2012; selain memberikan kontribusi konkrit dalam mengambil peran Indonesia mendukung percepatan upaya dalam mencapai pembangunan berkelanjutan secara global.

World Delta Summit juga diharapkan memberikan peluang untuk berbagi pengetahuan dan informasi melalui interaksi aktif antara semua pemangku kepentingan nasional dengan para peserta dan delegasi luar negeri terkait masalah pokok yang ada di delta yaitu:  banjir, penataan ruang/lahan, kelangkaan air bersih, infrastruktur, abrasi pantai dan kehilangan keanekaragaman hayati.

Green Building Council Indonesia turut mendukung penyelenggaraan ini dan mendorong pendiri dan anggota-anggotanya untuk berperan serta aktif dalam penyelenggaraan acara penting ini. Selain itu, GBC Indonesia juga turut menjadi pembicara dalam acara ini melalui Bapak Iwan Priyanto.

Kami percaya akan banyak manfaat yang didapat dari penyelenggaraan kegiatan ini.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan klik di sini… dan untuk registrasi, anda dapat mengikuti link ini.

Green Building adalah Sarana Pembangunan Berkelanjutan

Menurut penelitian Universitas Harvard, penduduk dunia pada tahun 2050 akan mencapai 9,3 milyar jiwa. Sebagian besar pertambahan penduduk tersebut paling banyak terjadi di perkotaan, termasuk juga di Indonesia. Pertanyaan paling mendasar, bagaimana mungkin manusia bisa tinggal secara manusiawi dalam keadaan yang sangat padat dan tidak teratur? Sejujurnya, kota-kota besar mulai kehilangan rasa kemanusiaannya dan menghadapi persoalan serius dalam upaya ’memanusiakan’ manusia.

Kita telah menyaksikan, pembangunan telah mengakibatkan kerusakan lingkungan. Dan salah satu penyumbang terbesar kerusakan tersebut adalah bangunan-bangunan yang didirikan tanpa memperhatikan desain yang ramah lingkungan. Satu dekade lalu telah memberikan bukti bahwa pertumbuhan tersebut perlu mempertimbangkan lingkungan sebagai bagian dari proses pembuatan desain.

Maka sejak saat ini, haruslah dipikirkan bagaimana desain, konstruksi dan pengelolaan bangunan memenuhi standar-standar yang ramah terhadap lingkungan. Itulah tuntutan masa kini dan masa depan, yaitu green building menjadi sebuah norma dasar dalam pembuatan desain sebuah bangunan.

Bila green building menjadi norma dasar dalam desain bangunan, maka terbantahlah anggapan green building adalah barang mahal, tidak nyaman, hanya berlaku bagi orang-orang peduli lingkungan, material yang harus diimpor, penghematan energi yang tidak jauh berbeda dengan kenyataan. Anggapan-anggapan itu adalah mitos yang harus kita kikis.

Namun untuk menuju ke arah itu, perlu kesadaran bersama diantara para pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, industri dan lembaga-lembaga masyarakat yang peduli pada persoalan green building serta masyarakat profesional seperti arsitek maupun kelompok ahli lainnya.

Pemerintah perlu membuat regulasi yang mendukung standarisasi penerapan green building, dengan demikian pemerintah akan menghasilkan kebijakan yang mengedepankan pembangunan berkelanjutan.

Industri pastilah akan mengikuti kebijakan pemerintah, dan sinergi tersebut akan semakin sempurna saat lembaga-lembaga masyarakat diajak serta terlibat dalam proses perumusan dan pengawasan pelaksanaan aturan-aturan tersebut, diantaranya melalui sertifikasi.

Dengan demikian, persoalan green building sesungguhnya merupakan salah satu alat kita memerangi kerusakan lingkungan dan pemanasan global. Mulailah dari desain yang mendukung dan mengimplementasi green building.

Jakarta, 17 November 2011
Green Building Council Indonesia
ttd.
Naning Adiwoso
Chairperson

GREENSHIP Associate (GA) merupakan pengantar atau pengenalan terhadap prinsip ramah lingkungan, sistem penilaian bangunan hijau dan prosedur sertifikasi GREENSHIP. Untuk detail dan pendaftaran, silahkan klik di sini

GREENSHIP Professional (GP) merupakan pendidikan lanjutan yang memberikan materi lebih dalam mengenai penerapan prinsip ramah lingkungan dalam suatu green building. Untuk detail dan pendaftaran, klik di sini

Green Building Council Indonesia turut mendukung perayaan puncak Hari Tata Ruang 2011 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sebagai peserta pameran (12-13 November 2011) serta mini expose yang akan menampilkan Nathan Kristanto siswa tingkat Sekolah Dasar yang akan memberikan presentasi proyek di sekolahnya mengenai pasif desain (zero energy house).

  • Jadwal presentasi pada mini expose: Sabtu, 12 November 2011 Pk. 10.00 – 10.30 WIB.
  • Jadwal presentasi pada booth GBC Indonesia: Minggu, 13 November 2011.

Toronto, Oktober 2011, Chairperson Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia) menghadiri kongres World Green Building Council (WGBC), Toronto-Kanada (2-3/Oktober). Kongres tersebut menitikberatkan agenda pembahasan pada positioning konsil-konsil bangunan hijau sebagai pemimpin transformasi pasar.

Kongres WGBC ini juga menjadi ajang dialog industri untuk mendiskusikan komunitas ramah lingkungan, wilayah ramah lingkungan, peningkatan investasi dalam bangunan ramah lingkungan dan pemaparan bisnis bangunan ramah lingkungan untuk panduan industri dan pemerintah.