Menangkap Peluang Bisnis Properti Konsep Rumah Hijau Dengan Program EDGE

Disaat ekonomi dunia sedang lesu seperti saat ini, apakah dunia bisnis harus semangat nya ikut menurun  untuk membangun properti?

Sejarah mencatat bahwa pergerakan ekonomi, politik dan properti suatu negara akan dipengaruhi oleh berbagai keadaan / peristiwa di berbagai negara atau wilayah lain. img-01

Misalnya, di saat ekonomi Amerika Serikat “bubble”, pasar perbankan berjatuhan akibat “prime mortgage”, sementara China saat itu sedang “booming” membangun ekonominya sehingga efek domino nya ke mempengaruhi beberapa negara seperti Indonesia dan ASEAN sebagai sumber komoditas yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan negara China dengan penduduknya yang lebih dari 1 Milyar.

Namun tidak berapa lama kemudian pasar China pun menjadi jenuh karena pertumbuhan penduduk sudah mencapai kesejahteraan dan pendapatan semakin meningkat, angka kelahiran menurun, sementara para penduduk usia lanjut (yang kurang produktif) semakin meningkat.

Akibatnya pelemahan ekonomi China terus  menjalar ke beberapa negara berkembang termasuk Indonesia dan ASEAN.

Namun perkembangan kemajuan China ternyata mengakibatkan jatuh banyak “korban”, yaitu dampak POLUSI udara, air dan pencemaran yang mematikan penduduk sekitarnya. Bahkan kota Beijing (Ibukota RRC) selama berbulan-bulan mengalami kabut asap pekat, penduduk kesulitan bernafas dimana-mana. Air minum bersih semakin sulit dicari. Hutan semakin langka akibat pembukaan lahan untuk perumahan, pembangunan apartemen, dan bangunan-bangunan tinggi.

Melihat keadaan pelik tersebut China belajar untuk memahami bahwa jika hidup “ambisi” tanpa mengingat alam dimana berpijak, akibatnya alam pun “menjadi lawan tidak bersahabat” bagi kehidupan manusia. Pengalaman ini membuat China dan negara-negara maju mengadakan perubahan total dalam pembangunan. Salah satunya pembangunan yang mendukung ramah lingkungan, hemat energi, dan menyelamatkan bumi agar penduduk dapat bertahan dalam lingkungan yang asri dan nyaman.

img-02Kalau dahulu pembangunan China “semau gue” merusak alam, menjadikan batu bara menjadi tenaga listrik dan membuang asap hasil pembakaran listrik ke udara, membuka hutan lindung demi pembangunan kawasan kota terpadu, sekarang negara ini sedang mengejar pembangunan ramah lingkungan, mereka membangun banyak “lahan” panel tenaga matahari, angin maupun panas bumi untuk menggantikan material pencemar udara seperti batu bara, minyak bumi, dan nuklir.

Begitu pula perkembangan properti dunia yang diawali dengan “perusakan alam” oleh beberapa negara berkembang dan maju, menuntut manusia untuk berpikir ulang membangun rumah dan hunian yang “segar, nyaman, dan hemat energi”.

Saat ini berbagai konsep baru mulai ditawarkan oleh pengembang properti. Mulai dari konsep “Urban Living”, yaitu sebuah konsep yang menganut kemajuan peradaban modern ala perkotaan dengan tetap memperhatikan faktor kesehatan dan kelestarian lingkungan alam.

img-03Dengan konsep “Urban Living” biasanya dibuat bergaya arsitektur masa kini (kontemporer atau minimalis) dengan diperlengkapi perangkat yang dapat menghemat listrik, menghemat air dan ramah lingkungan.

Konsep hunian lainnya adalah “Green Living atau Green Building” sebuah inovasi di dalam penciptaan lingkungan hunian yang memenuhi kinerja dalam bijak guna lahan, dibangun dengan kemampuan menghemat air dan energi, memiliki fasilitas yang dapat mengurangi limbah, serta mampu menjaga kualitas udara dalam ruangan.

Bagaimana pengembang dapat menangkap peluang bisnis dari konsep “Green Building” ini?

img-04Ternyata Green Building atau Bangunan Hijau sudah menjadi hal yang mendesak saat ini terutama bagi masa depan dunia yang sehat dan hemat energi, oleh Bank Dunia (World Bank) melalui grup nya IFC (International Finance Corporation) yaitu membuat program EDGE (Excellence in Design For Greater Effeciencies), yaitu sistem sertifikasi bangunan hijau untuk pasar yang sedang tumbuh.

Sistem ini merupakan “sistem yang terukur” bagi para pelaku konstruksi guna mengoptimalkan rancang bangun mereka menjadi layak investasi dan layak dipasarkan. EDGE selaras dengan kebutuhan para pengembang (owner building) untuk tetap berada dijajaran terdepan dalam era bangunan hijau.

EDGE untuk Rumah (Hunian)

Pembeli hunian yang cerdas, akan memahami manfaat nyata yang akan didapat oleh Bangunan Hijau. Melalui solusi seperti:

– Pencahayaan hemat energi

– Kaca thermal & penghematan air

Pengembang (Developer) bisa memenuhi harapan konsumen, yang berkeinginan menghemat pengeluaran operasional bulanan, tetapi tetap mendapatkan kenyamanan tinggal dengan ventilasi (bukaan) yang baik dan cahaya matahari yang berlimpah.

Hunian dengan sertifikasi EDGE akan menjadi daya tarik (peluang bisnis) bagi para calon pembeli yang memahami nilai investasi jangka panjang yang akan diperoleh dari Hunian Hijau (bangunan hijau) seperti:

– Tagihan listrik & air lebih rendah.

– Harga jual kembali lebih tinggi.

– Gaya Hidup yang lebih nyaman, asri dan sehat.

– Menjadi kebanggaan bagi pemilik rumah ikut peduli untuk mengurangi dampak pemanasan global.

IFC (world bank group) telah menunjuk GBCI (Green Building Council Indonesia) untuk menjadi mitra untuk melakukan sertifikasi EDGE bagi Pengembang, pemilik rumah.

Bagaimana proses sertifikasi EDGE tersebut?

Proses sertifikasi terdiri dari 2 tahap yaitu Tahap Rancangan dan Tahap Konstruksi.

Ketika detil proyek dimasukkan kedalam piranti lunak EDGE. Proyek rumah (perumahan) harus mencapai standar EDGE sebesar 20% dari penghematan energi, air dan material (bahan bangunan) dibandingkan dengan ukuran praktek konstruksi pada umumnya.

Apabila standar tersebut dicapai, proyek baru dapat disertifikasi untuk memperoleh sertifikasi EDGE.

Proses Sertifikasi EDGE antara lain:

  1. TAHAP RANCANGAN
    1. Input Data Rancangan ke EDGE
    2. Pendaftaran Proyek
    3. Penyampaian Dokumen Rancangan.
    4. Kajian Auditor.
    5. Verifikasi oleh Mitra EDGE.
    6. Sertifikasi Awal.
  2. TAHAP KONSTRUKSI
    1. Input Data ke As-Built drawing ke EDGE
    2. Pendaftaran Proyek
    3. Penyampaian Dokumentasi AS-Built.
    4. Pemeriksaan oleh AUDITOR dan Audit Lapangan.
    5. Verifikasi oleh Mitra EDGE.
    6. Sertifikasi EDGE.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai EDGE silahkan membuka di:  http://edgebuildings.com

img-05

atau hubungi :

GBC Indonesia

www.gbcindonesia.org

Jl. RC Veteran No.3A/1 Pesanggarahan Jakarta Selatan

Telp. 021-734077

1 comment

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *