Konsep Bangunan Hijau Kian Diminati

Konsep green building atau bangunan hijau merupakan salah satu bentuk respon masyarakat dunia akan perubahan iklim.

Ide ini mempromosikan bahwa perbaikan perilaku dan teknologi terhadap sebuah bangunan dapat berkontribusi bagi pengurangan pemanasan global.

Tidak dapat dipungkiri, penggunaan energi dalam bangunan secara berlebihan menjadi salah satu faktor dominan penyumbang emisi.

Menurut hasil studi yang dipublikasikan European Commission (2008), bangunan gedung mengonsumsi sekitar 40% energi primer dunia dan relatif lebih tinggi dibandingkan transportasi (30%) dan industri (20%). Tidak hanya itu, bangunan gedung menjadi penyumbang 24%-33% emisi CO2.

Namun, penerapan konsep bangunan hijau justru dapat mendorong adanya efisiensi energi bahkan pengurangan emisi.

Berdasarkan data US Green Building Council, bangunan hijau dapat mengurangi penggunaan energi sebesar 24%-50%, emisi CO2 sebesar 33%-39%, penggunaan air sebesar 40% dan limbah padat sebesar 70%.

Director of Rating and Technology Green Building Council Indonesia (GBCI) Rana Yusuf Nasir mengungkapkan, saat ini memang baru terdapat dua bangunan di Tanah Air yang tergolong sebagai bangunan ramah lingkungan, yakni Kantor Manajemen Pusat PT Dahana (Persero), Subang, dan Menara BCA PT Grand Indonesia, Jakarta. Keduanya telah memperoleh sertifikasi bangunan hijau (greenship certification) dari BGCI.

Meski pelaksanaannya masih tergolong minim, pengembangan bangunan dengan menerapkan konsep bangunan ramah lingkungan kini makin diminati.

“Saat ini baru dua gedung yang bersertifikat hijau. Bandingkan dengan Singapura, dimana terdapat sekitar 11.000 bangunan yang tersertifikasi bangunan hijau. Kesadaran hijau di Indonesia selama ini memang belum semaju negara-negara lain,” kata dia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Rana, saat ini kawasan Amerika, Eropa, Kanada dan Jepang mengontribusi sebagian besar emisi gas rumah kaca. Namun pertumbuhan penduduk yang pesat di banyak kawasan seperti Brasil, Rusia, China, India dan Asia Tenggara menyebabkan emisi CO2 bertambah dengan cepat.

Giatnya pembangunan dan sektor konstruksi di Indonesia pun turut meningkatkan kontribusi CO2 secara signifikan. Hal ini akan memperburuk kondisi lingkungan Indonesia, termasuk kualitas udara dalam ruang yang sangat memengaruhi kesehatan manusia. Apalagi, hampir 90% hidup manusia berada dalam ruangan.

“Kualitas udara dalam ruang yang buruk dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan kesehatan pada manusia yang biasa disebut dengan sick building syndrom (SBS) seperti sakit kepala, pusing, batuk, sesak napas, bersin-bersin, pilek, iritasi mata, pegal-pegal, mata kering, gejala flu dan depresi,” paparnya.

Untuk itu, diperlukan kesadaran hijau yang harus diterapkan konsisten secara nasional. Namun, tidak kalah penting untuk melakukan perbaikan teknologi terhadap bangunan-bangunan eksisting menjadi bangunan yang lebih tinggi efisiensi pemanfaatan energinya. (Atp/OL-9)

Penulis : Andreas Timothy

Sumber : http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2012/07/06/331175/4/2/Konsep_Bangunan_Hijau_Kian_Diminati_

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *