International Green Building Conference (IGBC) Singapore 2013

International Green Building Conference (IGBC) Singapore merupakan salah satu acara rutin tahunan yang diadakan Singapore Green Building Council (SGBC) dan Building & Construction Authority (BCA). Untuk tahun 2013, acara ini diadakan pada tanggal 11-13 September di Marina Bay Sands,Singapore.

Salah satu mata acaranya adalah Opening Plenary Conversation with Green panelist dengan topik Green Building Drivers in Asia Pacific Region. Bertindak sebagai moderator adalah David Nioh, Head of China & Director of Sustainability Asia dari Lend Lease. Untuk panelisnya, terdiri dari perwakilan 7 Negara, yaitu China, India, Indonesia, Philippines, Malaysia, Singapore dan Thailand. Bapak Ignesjz Kemalawarta, terpilih untuk menjadi panelis mewakili Indonesia.

Dalam paparannya,  Ignesjz Kemalawarta  berbicara mengenai pengalaman Sinarmasland dalam penerapan Green Building.  Diketengahkan pula kemajuan-kemajuan Indonesia dalam kaitannya dengan sertifikasi bangunan hijau, serta apa saja kendala, tantangan dan upaya yang perlu dilakukan untuk mempercepat implementasi  Green Building di Indonesia.

Menurut Ignesjz, ada 4 permasalahan yang umum terjadi di Indonesia, yaitu Green Building dipersepsikan sebagai investasi yang mahal , kurangnya tersedia material dan tenaga ahli professional yang paham mengenai bangunan hijau, serta belum adanya sistim insentif bagi penerapan bangunan hijau.

Sinarmasland sudah berhasil memperoleh beberapa sertifikasi bangunan hijau, diantaranya adalah pencapaian GREENSHIP Gold pada ITSB Deltamas, GREENSHIP Design Recognition Platinum pada Kampus Prasetiya Mulya Business School BSD,  dan Green Mark Gold pada BSD Green Office Park. Berdasarkan pada pegalaman ini, dukungan  Top Management merupakan hal yang sangat penting dalam penerapan bangunan hijau. Beberapa hal positif yang dicapai dengan penerapan bangunan hijau, antara lain adalah pencegahan peningkatan pemanasan global. Selain itu dengan melakukan penghematan energi dan sumber daya lainnya akan berdampak pada pengurangan emisi CO2. Gedung juga akan menjadi lebih sehat karena sistem tata udara di dalam ruangan lebih diperhatikan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja.

Di sisi lain kecenderungan pasar dan aturan-aturan yang berorientasi “Green“, seperti kenaikan biaya untuk  energi, menjadi pendukung meningkatnya permintaaan untuk ketersediaan ruang hijau dan gaya hidup yang memperhatikan kesehatan dan lingkungan.

Beberapa upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala –kendala penerapan bangunan hijau antara lain:

  1. Penerapan peraturan Bangunan Hijau di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sebagai awal mandatory process yang mengawali proses Green Building  dan dorongan Pemerintah untuk mengadakan produk “hijau “secara luas.
  2. Peralihan paradigma pelaku industri untuk menerapkan pola integrated design process dan pemahaman wawasan kenaikan investasi awal versus terjadinya penghematan operation cost sepanjang umur bangunan (lifecycle cost)
  3. Intensifikasi program sosialisasi dan pendidikan yang menekankan pada pemahaman konsep bangunan hijau.
  4. Pengadaan insentif sementara waktu untuk mendorong penerapan bangunan hijau.

Ignesjz Kemalawarta , yang juga merupakan Direktur Membership dari GBC Indonesia,  menyatakan pentingnya kolaborasi dan kerjasama antara pemangku-pemangku kepentingan , seperti pemerintah, swasta serta asosiasi, untuk mempercepat pelaksanaan bangunan hijau. Hal ini juga akan memperluas pengaruh positif bangunan hijau dalam mengurangi emisi karena dilakukan secara masif. Sebagai penutup, beliau menambahkan, jika kita semua tidak melakukan apa-apa dan melakukan business as usual, maka secara tidak langsung kita berkontribusi merusak  alam yang kita tinggali ini. (diedit oleh ANG/GBCI)

***