Implementasi Green Building di Indonesia – Asosiasi Pengelola Gedung BUMN – 11 Januari 2012

Konsil Bangunan Hijau Indonesia sangat berbahagia sekali dengan kesempatan yang diberikan Asosiasi Pengelola Gedung BUMN pada tanggal 11 Januari 2012 untuk berbagi pengalaman dalam kegiatan implementasi konsep bangunan hijau di tanah air. Acara ini dilangsungkan bersamaan dengan perayaan dirgahayu ke-6 kepada Asosiasi Pengelola Gedung BUMN untuk dapat terus bersama  meningkatkan kerjasama, profesionalisme, dan kinerja diantara para pengelola gedung milik BUMN untuk tujuan bidang sosial dan peningkatan serta pengembangan profesionalisme untuk memberikan kontribusi yang signifikan bagi bisnis pengelolaan gedung pada khususnya dan pengembangan bisnis properti pada khususnya.

Indikasi awal yang patut kita sadari sedini mungkin adalah bangunan menyumbang hampir mencapai 50 persen dari kerusakan lingkungan yang disebabkannya, dikarenakan eksploitasi sumber air bersih, pembalakan hutan secara liar, emisi CO2 akibat kegiatan konstruksi dan pembangunan, pemakaian energi dan material mentah yang berlebihan untuk proses pembangunan.

Selain itu bangunan juga menghasilkan sampah konstruksi yang tidak sedikit yang menyebabkan penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir yang akhirnya menurunkan daya dukung tanah dalam peresapan dan mengurai sampai akibat beban yang sangat berlebihan.

Implementasi sangat dibutuhkan karena kerusakan alam terus terjadi sejak revolusi industri bergulir, ancaman pemanasan global, terbatasnya sumber daya energi dan air, pembalakan hutan secara liar, jumlah penduduk bertambah, bumi sudah tidak dapat lagi menampung dan mengurai sampah. Kondisi ini diperparah dengan wabah penyakit yang semakin meluas, bibit penyakit yang berevolusi dan rentan dan serta terkontaminasinya lingkungan akibat zat-zat kimia berbahaya dan polusi, munculnya penyakit degeneratif dan menahun yang mengancam siklus mahluk hidup seperti sengatan panas, malaria, kanker, penyakit pernapasan, stroke dan lain sebagainya.

Indonesia sebagai negara yang memiliki kearifan lokal, telah mengadopsi paradigma dan pendekatan Green Building sejak masa lampau. Tanpa disadari, kita sudah memiliki apa yang kita sebut sekarang sebagai Bangunan Yang Respon Terhadap Iklim namun standarisasi baru ada saat ini bahwa misalnya: “Rumah dan Bangunan Tradisional Kontemporer”. Inisiatif mulia ini dapat lebih berkembang pesat di masa yang akan datang dengan bantuan semua dukungan dari anda, para industri, pengamat, pemerintah dari semua kalangan seiring dengan bertumbuh pesatnya pasar dan permintaan akan persyaratan bangunan yang ramah lingkungan, yang serta merta kita hanya lakukan untuk keberlangsungan kehidupan di dunia ini

Bagaimana cara memulainya ?

Diawali dengan usaha inisiatif anda sedini mungkin, memelopori dengan memiliki green team, komitmen satu tujuan untuk peduli dalam menyelenggarakan perkehidupan hijau, memberikan masukan untuk dasar penyusunan regulasi dan standar kemampuan untuk memonitor pemakaian energi, menjalin kerjasama di semua sektor, berorientasi ke depan dalam berprospek, serta jangan takut untuk saling berbagi dan menularkannya kepada orang lain.

Apa sajakah pendekatan bangunan hijau itu yang dapat diiplementasikan di Indonesia ?

Jangan tunda untuk menciptakan iklim mikro di lingkungan sekitar kita, melalui micro climate, kita dapat menurunkan suhu sekeliling bangunan beberapa derajat celcius  melalui strategi “desain pasif” yang mengutamakan potensi alam dan iklim sekitar untuk mendinginkan bangunan. Bila bangunan masih memerlukan strategi lanjut, maka diterapkannya “desain aktif” dimana bangunan menggunakan beberapa bantuan aplikasi teknologi sebagai solusi penyelesaian masalah yang dihadapi seperti penghawaan, pencahayaan, serta kenyamanan akustik bangunan.

Lanjutkan dengan menghemat pemakaian energi kita, yang cenderung paling banyak untuk mendinginkan ruangan melalui pemakaian teknologi pengkondisian udara, diikuti dengan pemakaian pencahayaan ruang dalam, pemakaian perangkat-perangkat rumah tangga. Kemudian efisienlah dalam pemakaian air, penggunaan saniter yang hemat penggunaan air, senantiasa mengampanyekan hemat air kepada masyarakat luas dikarenakan saat ini manusia sudah mengonsumsi 200 liter per hari

Pandai dalam memilih bahan bangunan yang ramah lingkungan dalam proses pembuatan dan pemasangannya dengan menggunakan sedikit energi, sedikit air, sedikit usaha dalam membersihkan dan merawatnya. Pengetahuan tentang material ramah lingkungan serta informasi ketersediannya di industri juga perlu ditingkatkan secara kontinu untuk dapat membantu pengaplikasian penghematan energi dalam bangunan, sebagai contoh: keramik dari composite geranite yang menggunakan teknologi nano, cat dinding dan pelitur dengan bahan dasar pelarut air.

Tidak melupakan dalam penciptaan kualitas udara lingkungan dalam ruang yang baik untuk mengurangi konsentrasi polutan-polutan di dalam ruang, dikarenakan  kualitas udara di dalam ruang 3-4 kali lebih buruk dari pada di luar ruang. Selain itu disarankan menggunakan material yang tidak beracun dan tidak mengandung senyawa kimia berbahaya seperti pada plastik dan beberapa bahan perekat dan pelarut. Hilangkanlah sumbernya dengan  pengadaan sirkulasi udara yang baik dan berputar.

Terakhir dan yang tak boleh luput adalah manajemen pengelolaan lingkungan. Hal yang terkait adalah proses pembelian dan pengadaaan barang atau material yang tidak mempunyai kemasan berlebih, diproduksi lokal, dapat didaur ulang serta dapat diurai oleh bakteri dalam tanah. Sehingga kurang dalam menghasilkan sampah. Kadang sampah untuk kita, namun sumber makanan bagi yang lain. Hasilnya, penumpukan di tempat pembuangan akhir (TPA) pun dapat dihindari. Begitu pula dengan survei atas tingkat kepuasan okupansi suatu gedung, sehingga segala masalah bangunan pasca konstruksi dapat dideteksi awal dan dicari solusi penyelesaiannya secara sistematis.

Masalah lain yang jarang dibahas adalah pengecekan ulang seluruh kinerja sistem bangunan setelah bangunan tersebut dipakai pada kurun waktu tertentu dan terjadwal (dikenal dengan nama “Komisioning”), hal ini ditujukan untuk menjaga kinerja bangunan yang telah diklaim dan disahkan ramah dan hemat terhadap penggunaan energi-air dan sumber daya lainnya, berada dalam kondisi yang optimum sesuai dengan standar dan prosedur operasi yang telah ditetapkan pada tahap awal.

Kesemuanya dapat terjadi jika ada komitmen bersama untuk dapat menghasilkan suatu bangunan yang dapat dikatakan “green building” dengan menggaris bawahi disini bahwa “green building” harus didesiminasi ke semua kalangan, semua strata sosial serta jabatan tanpa ada perbedaan apapun dikarenakan begitu mudah untuk memulainya, walaupun berbentuk sekecil apapun.

Menjadi hijau tidak lah mahal dan sulit seperti yang anda kira, bahkan efek jangka panjangnya dapat kita rasakan hingga ke anak cucu kita dengan biaya yang lebih murah sehingga hidup hijau itu mempunyai nilai ekonomi yang pasti menguntungkan anda semua.