Clearing The Skies, Fighting Climate Crisis: Exploring The Benefits of Air Quality and Climate Action in Jakarta

Sejak tahun 1998, Indonesia dilabeli sebagai salah satu negara dengan udara paling bersih di dunia. Sejak saat itu, Indonesia telah mengalami peningkatan konsentrasi partikulat polusi udara sebesar 171%. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan polusi udara tertinggi diantara negara-negara asia tenggara dan termasuk dua puluh besar negara paling terpolusi di dunia (Greenstone & Fan, 2019; IAQAir 2018).

Peraturan WHO menyebutkan tingkat konsentrasi PM2.5 yang terkandung di udara maksimal berada pada angka 10mikrogram/m3 . Sedangkan saat ini, konsentrasi PM2.5 pada udara di Jakarta berada di angka 45mikrogram/m3 , jauh dari angka maksimal yang ditetapkan oleh WHO. Pada tingkatan ini, angka harapan hidup penduduk Jakarta berkurang hingga 2,3 tahun (Greenstone & Fan, 2019). Peta Jalan Jakarta Clean Air 2030 memperkirakan 75% polusi dihasilkan dari sektor transportasi, 9% dari sektor energi, 8% dari industri, dan 8% dari kegiatan domestik.

Untuk mengatasi hal ini, Gubernur DKI Jakarta mengeluarkan Instruksi Gubernur No. 66/2019, yang menginstruksikan penyelenggara Kota Jakarta untuk melakukan berbagai aksi terutama pada sektor transportasi, tanpa melupakan sektor industri, efisiensi energi, dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Untuk lebih meningkatkan kesadaran akan isu ini, Pemerintah DKI Jakarta bersama dengan Kedutaan Besar Denmark dan C40, melaksanakan acara “Clearing The Skies, Fighting Climate Crisis: Exploring The Benefits of Air Quality and Climate Action in Jakarta”. Acara dibagi menjadi 2 diskusi panel. Pada diskusi panel pertama membicarakan tentang manajemen kualitas udara di Jakarta dengan menampilkan pembicara-pembicara seperti Carsten Møberg Larsen (Danish Clean Air Ambassador), Bapak Andono Warih (Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta), Bapak Dasrul Chaniago (Direktur Pengendalian Polusi Udara, KLHK), dengan moderator Milag San Jose-Ballesteros (Regional Director for SEA & Oceania, C40). Diskusi panel kedua membicarakan tentang inovasi aksi dan peraturan pada sektor transportasi dan energi dengan menghadirkan pembicara-pembicara seperti Bapak Agung Wicaksono (CEO Transjakarta), Bapak Dewanto Purnacandra (Kemenhub), Bapak Saleh Abdurrahman (Kemen ESDM), Bapak Lucky Lontoh (International Institute for Sustainable Development), dengan moderator Ibu Elly Sinaga (Sustainable Transport Expert).