Green Building adalah Sarana Pembangunan Berkelanjutan

Menurut penelitian Universitas Harvard, penduduk dunia pada tahun 2050 akan mencapai 9,3 milyar jiwa. Sebagian besar pertambahan penduduk tersebut paling banyak terjadi di perkotaan, termasuk juga di Indonesia. Pertanyaan paling mendasar, bagaimana mungkin manusia bisa tinggal secara manusiawi dalam keadaan yang sangat padat dan tidak teratur? Sejujurnya, kota-kota besar mulai kehilangan rasa kemanusiaannya dan menghadapi persoalan serius dalam upaya ’memanusiakan’ manusia.

Kita telah menyaksikan, pembangunan telah mengakibatkan kerusakan lingkungan. Dan salah satu penyumbang terbesar kerusakan tersebut adalah bangunan-bangunan yang didirikan tanpa memperhatikan desain yang ramah lingkungan. Satu dekade lalu telah memberikan bukti bahwa pertumbuhan tersebut perlu mempertimbangkan lingkungan sebagai bagian dari proses pembuatan desain.

Maka sejak saat ini, haruslah dipikirkan bagaimana desain, konstruksi dan pengelolaan bangunan memenuhi standar-standar yang ramah terhadap lingkungan. Itulah tuntutan masa kini dan masa depan, yaitu green building menjadi sebuah norma dasar dalam pembuatan desain sebuah bangunan.

Bila green building menjadi norma dasar dalam desain bangunan, maka terbantahlah anggapan green building adalah barang mahal, tidak nyaman, hanya berlaku bagi orang-orang peduli lingkungan, material yang harus diimpor, penghematan energi yang tidak jauh berbeda dengan kenyataan. Anggapan-anggapan itu adalah mitos yang harus kita kikis.

Namun untuk menuju ke arah itu, perlu kesadaran bersama diantara para pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, industri dan lembaga-lembaga masyarakat yang peduli pada persoalan green building serta masyarakat profesional seperti arsitek maupun kelompok ahli lainnya.

Pemerintah perlu membuat regulasi yang mendukung standarisasi penerapan green building, dengan demikian pemerintah akan menghasilkan kebijakan yang mengedepankan pembangunan berkelanjutan.

Industri pastilah akan mengikuti kebijakan pemerintah, dan sinergi tersebut akan semakin sempurna saat lembaga-lembaga masyarakat diajak serta terlibat dalam proses perumusan dan pengawasan pelaksanaan aturan-aturan tersebut, diantaranya melalui sertifikasi.

Dengan demikian, persoalan green building sesungguhnya merupakan salah satu alat kita memerangi kerusakan lingkungan dan pemanasan global. Mulailah dari desain yang mendukung dan mengimplementasi green building.

Jakarta, 17 November 2011
Green Building Council Indonesia
ttd.
Naning Adiwoso
Chairperson

Jakarta, 9 September 2011 – Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia) berharap pegiat properti Indonesia mulai menerapkan konsep green building. Penerapan konsep ini akan sejalan dengan program pemerintah dalam mengurangi emisi karbon pada tahun 2020.

Hal tersebut dikatakan oleh Naning Adiwoso, Chairperson GBC Indonesia. “Kami yakin bahwa standarisasi Green Building akan membantu menurunkan emisi karbon di Indonesia, jika semua pemangku kepentingan bersedia bertransformasi. Transformasi yang kami maksud di sini adalah, transformasi perilaku untuk lebih berpihak pada lingkungan, melalui implementasi Green Building,” kata Naning.

Patut diakui, penerapan standarisasi Green Building pada gedung komersial di Indonesia belumlah populer. Beberapa kalangan bahkan menganggap penerapan green building sangat mahal untuk konteks Indonesia. Padahal, dengan menerapkan green building, pengusaha properti dan pemerintah Indonesia dapat memperoleh banyak keuntungan, baik politik maupun ekonomi.

“Walau secara kuantitatif, keuntungan politik penerapan Green Building sulit diukur, dalam konteks etika politik yang demokratis, pemeliharaan lingkungan merupakan salah satu tema pokok dunia politik internasional. Dengan ikut terlibat aktif dalam aplikasi standarisasi green building, Indonesia dapat berbicara banyak di level internasional dalam segi pembangunan lingkungan hidup yang berkelanjutan,” kata Naning yang juga praktisi desain interior.

Sementara secara ekonomi, keuntungannya malah sangat nyata dan terukur, terutama dari sisi penghematan energi. Sebuah gedung komersil yang mengikuti standar penilaian GREENSHIP biasanya mampu melakukan penghematan energi antara 26% sampai 40% setiap bulannya. Penghematan tersebut bersumber dari berkurangnya volume penggunaan Air Conditioning (AC), penerangan gedung dan tak ketinggalan penghematan penggunaan air.

Efek positif yang sangat besar dari penerapan standarisasi green building sudah selayaknya menjadi acuan Indonesia dalam menerapkan standarisasi green building terhadap bangunan-bangunan komersial. Soal standar yang dipakai, Indonesia berhak menentukannya sendiri. Sebagai gambaran, dengan memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal, GBC Indonesia telah menetapkan GREENSHIP sebagai rating tools. GREENSHIP adalah sistem penilaian yang menjembatani konsep bangunan ramah lingkungan dan prinsip keberlanjutan dengan praktik yang nyata. Dengan demikian, penerapan standarisasi green building di Indonesia dapat secara maksimal membantu program pembangunan lingkungan hidup yang berkelanjutan yang dicanangkan pemerintah.

GBC Indonesia yang aktif melakukan berbagai program edukasi untuk lebih mengenalkan konsep-konsep mengenai green building akan mengadakan perhelatan besar berupa Grand Launching Green Building Council Indonesia dengan tema ‘’Through Green Building to Sustainable Nation’’, diadakan pada Selasa, 20 September 2011 di Ballroom Pullman Hotel – Central Park, Podomoro City, Jakarta Barat. Gubernur DKI Jakarta dijadwalkan akan membuka acara penting ini.

(Foto: www.menlh.go.id)
Green Building Council Indonesia resmi terdaftar pada Kementerian Lingkungan Hidup sebagai lembaga penyelenggara sertifikasi bangunan ramah lingkungan. Pada Jum’at 12 Agustus 2011 dalam Launching Sistem dan Skema Sertifikasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta, M.S. secara resmi menyampaikan sertifikat dengan nomor Registrasi Kompetensi 001 / LPJ / BRL / LRK / KLH tertanggal 21 Juli 2011.

Menteri Lingkungan Hidup menyampaikan harapan bahwa program sertifikasi bangunan ramah lingkungan dapat membantu menekan laju emisi di Indonesia. Kontribusinya diharapkan nyata seperti target yang ditetapkan oleh Pemerintah Repulik Indonesia untuk menekan laju emisi sebesar 26 persen sampai tahun 2020.

Dalam sambutannya, Ibu Naning Adiwoso, chairperson GBC Indonesia menyatakan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan pemerintah kepada GBC Indonesia, dan meyakini, inisiatif Green Building Council Indonesia akan mendorong para pemangku kepentingan untuk turut serta dalam gerakan green building movement.

Informasi lebih lanjut mengenai Launching Sistem Dan Skema Sertifikasi 12 Agustus 2011 dapat diakses melalui:

http://www.antaranews.com/berita/271419/70-bangunan-daftar-sertifikasi-bangunan-ramah-lingkunga