By Naning Adiwoso

Globally, the construction and operation of buildings causes 40 percent of all CO2 emissions. In Indonesia, buildings currently account for 30 percent of the country’s total energy consumption, a number that is set to rise to nearly 40 percent by 2030 in a business-as-usual scenario. However up to one third of the energy and water consumption of Indonesia’s buildings can be easily reduced through better building design and operation. How can we take collective action to ensure that green buildings are the way of our future?

Today we are poised at a unique moment in the evolution of the Indonesian property sector. Strong capital investment, rising personal income and rapid urbanization continue to fuel construction growth at 5% annually, accounting for roughly a quarter of GDP. On the affordable end of the residential property sector alone, Vice President Kalla has set a target of building two million homes per year for low-income households, in order to catch up with demand. The time is right to ask ourselves if we ready to respond to this opportunity in a way that resonates with our business interests while fighting back at climate change.Continue reading

Disaat ekonomi dunia sedang lesu seperti saat ini, apakah dunia bisnis harus semangat nya ikut menurun  untuk membangun properti?

Sejarah mencatat bahwa pergerakan ekonomi, politik dan properti suatu negara akan dipengaruhi oleh berbagai keadaan / peristiwa di berbagai negara atau wilayah lain. img-01

Misalnya, di saat ekonomi Amerika Serikat “bubble”, pasar perbankan berjatuhan akibat “prime mortgage”, sementara China saat itu sedang “booming” membangun ekonominya sehingga efek domino nya ke mempengaruhi beberapa negara seperti Indonesia dan ASEAN sebagai sumber komoditas yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan negara China dengan penduduknya yang lebih dari 1 Milyar.

Namun tidak berapa lama kemudian pasar China pun menjadi jenuh karena pertumbuhan penduduk sudah mencapai kesejahteraan dan pendapatan semakin meningkat, angka kelahiran menurun, sementara para penduduk usia lanjut (yang kurang produktif) semakin meningkat.

Akibatnya pelemahan ekonomi China terus  menjalar ke beberapa negara berkembang termasuk Indonesia dan ASEAN.

Namun perkembangan kemajuan China ternyata mengakibatkan jatuh banyak “korban”, yaitu dampak POLUSI udara, air dan pencemaran yang mematikan penduduk sekitarnya. Bahkan kota Beijing (Ibukota RRC) selama berbulan-bulan mengalami kabut asap pekat, penduduk kesulitan bernafas dimana-mana. Air minum bersih semakin sulit dicari. Hutan semakin langka akibat pembukaan lahan untuk perumahan, pembangunan apartemen, dan bangunan-bangunan tinggi.

Melihat keadaan pelik tersebut China belajar untuk memahami bahwa jika hidup “ambisi” tanpa mengingat alam dimana berpijak, akibatnya alam pun “menjadi lawan tidak bersahabat” bagi kehidupan manusia. Pengalaman ini membuat China dan negara-negara maju mengadakan perubahan total dalam pembangunan. Salah satunya pembangunan yang mendukung ramah lingkungan, hemat energi, dan menyelamatkan bumi agar penduduk dapat bertahan dalam lingkungan yang asri dan nyaman.

img-02Kalau dahulu pembangunan China “semau gue” merusak alam, menjadikan batu bara menjadi tenaga listrik dan membuang asap hasil pembakaran listrik ke udara, membuka hutan lindung demi pembangunan kawasan kota terpadu, sekarang negara ini sedang mengejar pembangunan ramah lingkungan, mereka membangun banyak “lahan” panel tenaga matahari, angin maupun panas bumi untuk menggantikan material pencemar udara seperti batu bara, minyak bumi, dan nuklir.

Begitu pula perkembangan properti dunia yang diawali dengan “perusakan alam” oleh beberapa negara berkembang dan maju, menuntut manusia untuk berpikir ulang membangun rumah dan hunian yang “segar, nyaman, dan hemat energi”.

Saat ini berbagai konsep baru mulai ditawarkan oleh pengembang properti. Mulai dari konsep “Urban Living”, yaitu sebuah konsep yang menganut kemajuan peradaban modern ala perkotaan dengan tetap memperhatikan faktor kesehatan dan kelestarian lingkungan alam.

img-03Dengan konsep “Urban Living” biasanya dibuat bergaya arsitektur masa kini (kontemporer atau minimalis) dengan diperlengkapi perangkat yang dapat menghemat listrik, menghemat air dan ramah lingkungan.

Konsep hunian lainnya adalah “Green Living atau Green Building” sebuah inovasi di dalam penciptaan lingkungan hunian yang memenuhi kinerja dalam bijak guna lahan, dibangun dengan kemampuan menghemat air dan energi, memiliki fasilitas yang dapat mengurangi limbah, serta mampu menjaga kualitas udara dalam ruangan.

Bagaimana pengembang dapat menangkap peluang bisnis dari konsep “Green Building” ini?

img-04Ternyata Green Building atau Bangunan Hijau sudah menjadi hal yang mendesak saat ini terutama bagi masa depan dunia yang sehat dan hemat energi, oleh Bank Dunia (World Bank) melalui grup nya IFC (International Finance Corporation) yaitu membuat program EDGE (Excellence in Design For Greater Effeciencies), yaitu sistem sertifikasi bangunan hijau untuk pasar yang sedang tumbuh.

Sistem ini merupakan “sistem yang terukur” bagi para pelaku konstruksi guna mengoptimalkan rancang bangun mereka menjadi layak investasi dan layak dipasarkan. EDGE selaras dengan kebutuhan para pengembang (owner building) untuk tetap berada dijajaran terdepan dalam era bangunan hijau.

EDGE untuk Rumah (Hunian)

Pembeli hunian yang cerdas, akan memahami manfaat nyata yang akan didapat oleh Bangunan Hijau. Melalui solusi seperti:

– Pencahayaan hemat energi

– Kaca thermal & penghematan air

Pengembang (Developer) bisa memenuhi harapan konsumen, yang berkeinginan menghemat pengeluaran operasional bulanan, tetapi tetap mendapatkan kenyamanan tinggal dengan ventilasi (bukaan) yang baik dan cahaya matahari yang berlimpah.

Hunian dengan sertifikasi EDGE akan menjadi daya tarik (peluang bisnis) bagi para calon pembeli yang memahami nilai investasi jangka panjang yang akan diperoleh dari Hunian Hijau (bangunan hijau) seperti:

– Tagihan listrik & air lebih rendah.

– Harga jual kembali lebih tinggi.

– Gaya Hidup yang lebih nyaman, asri dan sehat.

– Menjadi kebanggaan bagi pemilik rumah ikut peduli untuk mengurangi dampak pemanasan global.

IFC (world bank group) telah menunjuk GBCI (Green Building Council Indonesia) untuk menjadi mitra untuk melakukan sertifikasi EDGE bagi Pengembang, pemilik rumah.

Bagaimana proses sertifikasi EDGE tersebut?

Proses sertifikasi terdiri dari 2 tahap yaitu Tahap Rancangan dan Tahap Konstruksi.

Ketika detil proyek dimasukkan kedalam piranti lunak EDGE. Proyek rumah (perumahan) harus mencapai standar EDGE sebesar 20% dari penghematan energi, air dan material (bahan bangunan) dibandingkan dengan ukuran praktek konstruksi pada umumnya.

Apabila standar tersebut dicapai, proyek baru dapat disertifikasi untuk memperoleh sertifikasi EDGE.

Proses Sertifikasi EDGE antara lain:

  1. TAHAP RANCANGAN
    1. Input Data Rancangan ke EDGE
    2. Pendaftaran Proyek
    3. Penyampaian Dokumen Rancangan.
    4. Kajian Auditor.
    5. Verifikasi oleh Mitra EDGE.
    6. Sertifikasi Awal.
  2. TAHAP KONSTRUKSI
    1. Input Data ke As-Built drawing ke EDGE
    2. Pendaftaran Proyek
    3. Penyampaian Dokumentasi AS-Built.
    4. Pemeriksaan oleh AUDITOR dan Audit Lapangan.
    5. Verifikasi oleh Mitra EDGE.
    6. Sertifikasi EDGE.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai EDGE silahkan membuka di:  http://edgebuildings.com

img-05

atau hubungi :

Rudi Binoto

E :  rudi@gbcindonesia.org

M : 083873115050

—————————–

GBC Indonesia

www.gbcindonesia.org

Jl. RC Veteran No.3A/1 Pesanggarahan Jakarta Selatan

Telp. 021-734077

Suatu organisasi bernama Architecture 2030 mencanangkan suatu program bernama 2030 Challenges. Program tersebut menyatakan bahwa, pada tahun 2030 semua pembangunan gedung baru, pengembangan gedung lama, atau renovasi gedung, dalam masa pembangunan hingga operasi gedung harus bebas karbon.

NetZero-1

Dengan adanya program ini, gerakan untuk menciptakan bangunan yang benar-benar bebas karbon sedang digalakkan di seluruh dunia. Berbagai bangunan muncul dengan berbagai nama yang mengusung jargon bebas karbon. Secara global kita menyebutnya Zero Net Building. Namun apa saja yang termasuk kriteria Zero Net Building?

Menurut Environmental Protection Agency (EPA), konsep Zero Net terdiri dari 3 komponen yaitu:

  • Mencapai Net Zero Water, berarti membatasi konsumsi dari suatu sumber air, mengolah air hasil buangannya, dan menyalurkannya kembali ke sumber yang sama supaya tidak menghabiskan sumber daya air pada suatu tempat tertentu.
  • Mencapai Net Zero Energy, berarti menghasilkan energi dari sumber yang terbarukan, sebanyak energi yang diperlukan suatu bangunan selama satu tahun.
  • Mencapai Net Zero Waste, berarti mengurangi, menggunakan kembali, dan memperbaiki barang bekas dan bisa menambah nilai barang tersebut sehingga tidak perlu dibuang ke penampungan sampah.

Pada dasarnya, dalam mengaplikasikan Zero Net Building yang harus diperhatikan adalah bagaimana menyeimbangkan antara jumlah sumber daya yang dipakai dengan jumlah sumber daya yang dihasilkan. Sehingga desain bangunan akan memegang peranan yang sangat penting untuk mengurangi konsumsi sumber daya sebanyak mungkin, sehingga beban untuk menghasilkan sumber daya menjadi lebih ringan.

Beberapa metode diperlihatkan oleh beberapa gedung di seluruh dunia. Zero Carbon Building (ZCB) di Hong Kong mengurangi konsumsi listrik dengan berbagai metode desain pasif seperti ventilasi silang, penangkap angin, orientasi bangunan, high performance glazing, dan memakai peralatan-peralatan yang hemat energi sehingga bisa mengurangi konsumsi listrik hingga 45 % dibanding gedung pada umumnya. Dengan menghasilkan energi sebanyak 143 MWH per-tahun yang berasal dari 2 sumber, yaitu solar PV dan biogas, ZCB bisa memenuhi kebutuhan operasional listriknya selama satu tahun, bahkan bisa memberikan kelebihan listriknya kepada jaringan listrik pemerintah.

Zero Carbon Building Hong Kong

Zero Carbon Building Hong Kong

Seoul Energy Dream, Korea Selatan dengan memakai konsep yang holistik antara desain dan penggunaan teknologi yang tepat berhasil memangkas penggunaan energi hingga 84% lebih rendah dibandingkan rata-rata penggunaan energi pada gedung di Korea Selatan. Dengan sumber energi dari panel surya dan juga energi geothermal, menghasilkan listrik sebesar 280.000 kWh/tahun, menjadikan Seoul Energy Dream Center sebagai bangunan dengan konsumsi listrik secara tahunan yang disebut zero net energy consumption.

Seoul Energy Dream Center

Seoul Energy Dream Center

Bullit Center di Amerika Serikat selain mempunyai efisiensi energi yang tinggi, juga mempunyai metode penghematan air dan pengolahan air sehingga dapat diserapkan kembali ke dalam tanah. Dengan masa pakai bangunan yang mencapai 250 tahun, limbah konstruksi dari gedung akan sangat berkurang karena tidak harus menghancurkan dan membangun kembali gedung baru. Bullit Center bisa dibilang bangunan yang paling dekat dengan konsep Net Zero Building.

Bullit Center Building

Bullit Center Building

Pendekatan Net Zero Building ini sebagai generasi berikutnya dari green building akan sangat membantu untuk mengurangi karbon yang dihasilkan oleh bangunan.

Kami mengundang para anggota GBC Indonesia untuk mengikuti webinar  dengan tema “Sustainable Communities” dengan pembicara dari C40 Cities Climate Leadership Group, Zach Tofias. Webinar ini merupakan salah satu acara dalam rangkaian program “Sustainable Cities Initiative” dari WorldGBC.

 

Zach merupakan aktor di balik program C40 terkait dengan komunitas berkelanjutan dan akan berbagi informasi mengenai inovasi perkembangan kota-kota di dunia.

 

Bergabunglah bersama kami untuk mengikuti diskusi secara langsung dan mendapatkan informasi mengenai :

 

– Bagaimana pengembang, kota dan juga masyarakat bisa mendapatkan manfaat dari desain penataan kota. 

– Mengapa kota perlu melihat strata sosial dalam rencana pengembangannya. 

– Bagaimana rencana tata ruang dapat dipergunakan dalam memerangi perubahan iklim

– Pembangunan seperti apa yang dapat merubah cara orang dalam berinteraksi dengan bangunan dan juga komunitas. 

 

Dalam webinar ini anda juga dapat mengajukan pertanyaan terkait dengan presentasi yang diajukan.

Tidak ada biaya kepesertaan dalam webinar ini.

 

Daftarkan diri anda sekarang di sini untuk kesempatan berharga ini.

 

(ANG)

EEB LabSebagai salah satu upaya dalam mencapai tujuan organisasi serta sebagai bagian dari komunitas Internasional, GBC Indonesia secara aktif terlibat dalam berbagai kegiatan dan juga program yang dapat memajukan penerapan konsep bangunan hijau.

 

Bersama dengan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), GBC Indonesia menjadi salah satu Steering Committee untuk Program Energy Efficiency for Building (EEB Lab 2.0). Program ini merupakan program yang digagas oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) untuk meningkatkan kesadaran efisiensi energy di kalangan pengusaha dan juga pemangku kepentingan di sektor bangunan.

 

EEB Lab telah diselenggarakan sejak tahun 2007 dan saat ini sudah ada 4 negara yang memiliki project ini, yaitu US (Houston, San Fransisco), China (Shanghai), India (Jaipur, Bangalore), dan Polandia. Program EEB untuk 2015 akan ditargetkan pada 5 area yaitu Brazil, Belanda/Belgia, Hongkong, Jerman serta wilayah Asia Pacific yang akan mencangkup 3 negara, yaitu Singapore, Indonesia dan Malaysia.

 

Program ini akan mengundang para anggota GBC Indonesia untuk turut berpartisipasi dalam acara diskusi tertutup yang rencana akan diselenggarakan pada tanggal 29 Juli 2015.

 

Informasi lebih lanjut terkait dengan program ini dapat dilihat di www.wbcsd.org

  

(ANG)