Konsil Bangunan Hijau Indonesia berkesempatan memberikan paparan singkat tentang pentingnya mendesiminasi gerakan hijau hingga ke tingkat fasilitas pendidikan tinggi setara universitas guna penyebaran informasi yang seluas-luasnya tanpa batas. Waktu yang berharga ini diberikan oleh Prof. Yohannes Surya Ph.D, seorang tokoh pendidikan Indonesia sekaligus selaku Chairman dari Surya Institute, sebuah institusi pendidikan yang terbaik yang dimiliki Indonesia guna mengenalkan lebih luas dan populer tentang keilmuan pengetahuan dan pendidikan Matematika, sehingga lebih mudah dipahami, menyenangkan untuk dipelajari dan didalami serta berguna bagi kehidupan dalam mendukung “life skill” dan kemampuan “workforce” dalam praktik keseharian. Selain itu, institusi mulia ini mempunyai visi untuk membentuk tenaga sumber daya manusia yang terampil sehingga berkemampuan untuk berkontribusi penuh dalam proses pembangun dan siap bersaing dalam komunitas lokal dan internasional.

Di dalam menyediakan sumber daya manusia yang terampil dan siap menghadapi masa depan, sudah barang tentu memerlukan fasilitas sarana dan prasarana yang cukup dan memadai agar seluruh aspirasi, ide, kreatifitas serta aktualisasi diri dapat tersalurkan dengan baik, transparan, dan terakomodir dengan baik. Bukan hanya sampai disitu, hal yang akan ikut mempengaruhi pembentukan suatu kualitas sumber daya manusia adalah gaya dan pola proses belajar dan mengajar, peralatan pendukung yang disediakan, teknologi yang dipakai serta kondisi yang diciptakan untuk kelancaran  proses belajar dan mengajar di dalamnya.

Saat ini dan untuk waktu yang akan datang, lingkungan belajar dan mengajar akan lebih dinamis dan bergerak dalam beraktivitas. Perubahan generasi saat ini menuntut konektivitas yang kontinu dalam proses belajarnya guna mencari tahu lebih dalam tentang dasar suatu hal yang akan didalaminya. Akses teknologi komputer dan koneksi internet serta nirkabel menjadi suatu kebutuhan primer, begitu pula dengan peralatan yang dibutuhkan. Kebutuhan peralatan akan membutuhkan kebutuhan tempat dan ruang untuk mewadahinya.

Disinilah peran seorang desainer seperti arsitek dan desain interior dibutuhkan untuk dapat memahami jenis aktifitas yang akan diwadahi, perilaku penghuni, atmosfer yang terbentuk sehingga menentukan besaran dan luasan ruang yang akan didesain.

Begitu pula dengan penyediaan teknologi yang akan diterapkan untuk menunjangnya, karena tidak pernah ada satu solusi desain dapat menjawab semua jenis kebutuhan. Solusi dituntut untuk berubah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi serta hambatan yang akan muncul di dalam proses perjalanannya.

Teknologi sebagai jawaban akhir menjadi penting untuk berubah dan menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna, namun pengguna juga harus senantiasa menambah pengetahuan dan kemampuannya untuk dapat senantiasa pula mengikuti perkembangan teknologi tersebut.

Pola pikir seorang siswa juga akan dituntut berubah agar dapat menjalankan aplikasi teknologi yang senantiasa berkembang dan tidak pernah menunda. Kolaborasi dalam kerja tim melalui proses belajar dan mengajar menjadi suatu kewajiban agar suatu masalah dapat dipahami dan dicari solusinya hanya dengan satu persamaan persepsi, namun melibatkan kerjasama semua anggota tim dari berbagai latar belakang.

Pada akhirnya seluruh aspek yang dibicarakan di atas akan mempengaruhi desain dan bentuk (desain) suatu ruang dan seni bangunan (arsitektur) secara keseluruhan. Mulai dari ruang publik hingga ruang yang membutuhkan tingkat privasi yang tinggi. Mulai dari penggunaan unsur alamiah hingga unsur artifisial dalam membentuk suatu desain ruang menjadi sebuah bangunan.

Pendekatan “bangunan hijau” masih menjadi satu-satunya solusi untuk menjawab semua permasalahan ruang dan bangunan dimasa datang. Karena dengan melalui “bangunan hijau”lah, keserasian hubungan manusia dengan alam masih dapat terjaga. Bangunan Hijau senantiasa mengikutsertakan trilogi hubungan manusia-lingkungan fisik-budaya mulai dari perancangan awal hingga suatu desain dihuni dan digunakan selain faktor “engineering” yang ramah terhadap lingkungan. Di negeri yang beriklim tropis lembab seperti Indonesia, kondisi alam, iklim, perilaku cuaca  menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan.

Didalam mendesain suatu fasilitas pendidikan tinggi, penerapan teknologi yang ringan mencakup teknologi bahan bangunan material hingga dalam penyediaan teknologi informasi dan komunikasi yang multi fungsi, fleksibel, sederhana, mudah dan cepat teraplikasikan, memiliki resistensi yang tinggi serta tersedia luas di pangsa pasar sangat mempengaruhi. Citra, bentuk dan morfologi bangunan akan ikut berubah seiring dengan teknologi yang dapat diterapkan dengan tidak meninggalkan kebudayaan aslinya. Dukungan industri yang menghasilkan produk ramah lingkungan juga sangat ditunggu untuk merespon permintaan dan pengetahuan konsumen yang akan berkembang dan semakin selektif. Lahan terbuka sebagai tempat berpijak serta beraktivitas diluar bangunan akan sangat dibutuhkan keberadaannya menjawab kebutuhan hidup generasi selanjutnya yang makin fleksibel. Perlu ada batasan-batasan yang jelas agar setiap kegiatan yang beragam tidak sampai mengganggu kegiatan beragam lainnya. Batasan tersebut juga diperlukan agar tingkat ruang aktifitas memperoleh perlindungan dari tingkat kebisingan dan polusi yang makin meningkat. Daya dukung alam memang dapat menjawab semua permasalahan, namun keterbatasan dukungannya akan membatasi ruang gerak manusia jika kita sebagai penghuni utamanya enggan untuk berpikir lebih arif terhadap lingkungan dalam beraktivitas.

Jaringan konektivitas masa depan tidak hanya dibutuhkan di dalam sistem komputerisasi kegiatan dan sistem suatu bangunan untuk memudahkan seseorang berintegrasi dengan yang lain sewaktu berkomunikasi, namun jaringan konektivitas antar ruang (sirkulasi dan aksesbilitas) yang akan dirancang menjadi tolok ukur penting untuk meningkatkan pencapaian pengguna ruang dan bangunan sehingga mempermudah kegiatan yang terjadi di dalamnya serta menghindari pengggunaan kendaraan bermotor yang berujung pengurangan jejak karbon di lingkungan. Dunia memang telah berubah dan akan terus berubah seiring dengan gaya hidup yang dijalankan penghuninya yaitu manusia.

“The modern movement , at its point on inception over a century ago, was an attempt at re-connecting us with the natural world – light, air, sun – underpinned by the notion that all buildings should address biological and social needs”…..quotes by Dr. Nirmal Kishnani.

GBC Indonesia

Konsil Bangunan Hijau Indonesia sangat berbahagia sekali dengan kesempatan yang diberikan Asosiasi Pengelola Gedung BUMN pada tanggal 11 Januari 2012 untuk berbagi pengalaman dalam kegiatan implementasi konsep bangunan hijau di tanah air. Acara ini dilangsungkan bersamaan dengan perayaan dirgahayu ke-6 kepada Asosiasi Pengelola Gedung BUMN untuk dapat terus bersama  meningkatkan kerjasama, profesionalisme, dan kinerja diantara para pengelola gedung milik BUMN untuk tujuan bidang sosial dan peningkatan serta pengembangan profesionalisme untuk memberikan kontribusi yang signifikan bagi bisnis pengelolaan gedung pada khususnya dan pengembangan bisnis properti pada khususnya.

Indikasi awal yang patut kita sadari sedini mungkin adalah bangunan menyumbang hampir mencapai 50 persen dari kerusakan lingkungan yang disebabkannya, dikarenakan eksploitasi sumber air bersih, pembalakan hutan secara liar, emisi CO2 akibat kegiatan konstruksi dan pembangunan, pemakaian energi dan material mentah yang berlebihan untuk proses pembangunan.

Selain itu bangunan juga menghasilkan sampah konstruksi yang tidak sedikit yang menyebabkan penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir yang akhirnya menurunkan daya dukung tanah dalam peresapan dan mengurai sampai akibat beban yang sangat berlebihan.

Implementasi sangat dibutuhkan karena kerusakan alam terus terjadi sejak revolusi industri bergulir, ancaman pemanasan global, terbatasnya sumber daya energi dan air, pembalakan hutan secara liar, jumlah penduduk bertambah, bumi sudah tidak dapat lagi menampung dan mengurai sampah. Kondisi ini diperparah dengan wabah penyakit yang semakin meluas, bibit penyakit yang berevolusi dan rentan dan serta terkontaminasinya lingkungan akibat zat-zat kimia berbahaya dan polusi, munculnya penyakit degeneratif dan menahun yang mengancam siklus mahluk hidup seperti sengatan panas, malaria, kanker, penyakit pernapasan, stroke dan lain sebagainya.

Indonesia sebagai negara yang memiliki kearifan lokal, telah mengadopsi paradigma dan pendekatan Green Building sejak masa lampau. Tanpa disadari, kita sudah memiliki apa yang kita sebut sekarang sebagai Bangunan Yang Respon Terhadap Iklim namun standarisasi baru ada saat ini bahwa misalnya: “Rumah dan Bangunan Tradisional Kontemporer”. Inisiatif mulia ini dapat lebih berkembang pesat di masa yang akan datang dengan bantuan semua dukungan dari anda, para industri, pengamat, pemerintah dari semua kalangan seiring dengan bertumbuh pesatnya pasar dan permintaan akan persyaratan bangunan yang ramah lingkungan, yang serta merta kita hanya lakukan untuk keberlangsungan kehidupan di dunia ini

Bagaimana cara memulainya ?

Diawali dengan usaha inisiatif anda sedini mungkin, memelopori dengan memiliki green team, komitmen satu tujuan untuk peduli dalam menyelenggarakan perkehidupan hijau, memberikan masukan untuk dasar penyusunan regulasi dan standar kemampuan untuk memonitor pemakaian energi, menjalin kerjasama di semua sektor, berorientasi ke depan dalam berprospek, serta jangan takut untuk saling berbagi dan menularkannya kepada orang lain.

Apa sajakah pendekatan bangunan hijau itu yang dapat diiplementasikan di Indonesia ?

Jangan tunda untuk menciptakan iklim mikro di lingkungan sekitar kita, melalui micro climate, kita dapat menurunkan suhu sekeliling bangunan beberapa derajat celcius  melalui strategi “desain pasif” yang mengutamakan potensi alam dan iklim sekitar untuk mendinginkan bangunan. Bila bangunan masih memerlukan strategi lanjut, maka diterapkannya “desain aktif” dimana bangunan menggunakan beberapa bantuan aplikasi teknologi sebagai solusi penyelesaian masalah yang dihadapi seperti penghawaan, pencahayaan, serta kenyamanan akustik bangunan.

Lanjutkan dengan menghemat pemakaian energi kita, yang cenderung paling banyak untuk mendinginkan ruangan melalui pemakaian teknologi pengkondisian udara, diikuti dengan pemakaian pencahayaan ruang dalam, pemakaian perangkat-perangkat rumah tangga. Kemudian efisienlah dalam pemakaian air, penggunaan saniter yang hemat penggunaan air, senantiasa mengampanyekan hemat air kepada masyarakat luas dikarenakan saat ini manusia sudah mengonsumsi 200 liter per hari

Pandai dalam memilih bahan bangunan yang ramah lingkungan dalam proses pembuatan dan pemasangannya dengan menggunakan sedikit energi, sedikit air, sedikit usaha dalam membersihkan dan merawatnya. Pengetahuan tentang material ramah lingkungan serta informasi ketersediannya di industri juga perlu ditingkatkan secara kontinu untuk dapat membantu pengaplikasian penghematan energi dalam bangunan, sebagai contoh: keramik dari composite geranite yang menggunakan teknologi nano, cat dinding dan pelitur dengan bahan dasar pelarut air.

Tidak melupakan dalam penciptaan kualitas udara lingkungan dalam ruang yang baik untuk mengurangi konsentrasi polutan-polutan di dalam ruang, dikarenakan  kualitas udara di dalam ruang 3-4 kali lebih buruk dari pada di luar ruang. Selain itu disarankan menggunakan material yang tidak beracun dan tidak mengandung senyawa kimia berbahaya seperti pada plastik dan beberapa bahan perekat dan pelarut. Hilangkanlah sumbernya dengan  pengadaan sirkulasi udara yang baik dan berputar.

Terakhir dan yang tak boleh luput adalah manajemen pengelolaan lingkungan. Hal yang terkait adalah proses pembelian dan pengadaaan barang atau material yang tidak mempunyai kemasan berlebih, diproduksi lokal, dapat didaur ulang serta dapat diurai oleh bakteri dalam tanah. Sehingga kurang dalam menghasilkan sampah. Kadang sampah untuk kita, namun sumber makanan bagi yang lain. Hasilnya, penumpukan di tempat pembuangan akhir (TPA) pun dapat dihindari. Begitu pula dengan survei atas tingkat kepuasan okupansi suatu gedung, sehingga segala masalah bangunan pasca konstruksi dapat dideteksi awal dan dicari solusi penyelesaiannya secara sistematis.

Masalah lain yang jarang dibahas adalah pengecekan ulang seluruh kinerja sistem bangunan setelah bangunan tersebut dipakai pada kurun waktu tertentu dan terjadwal (dikenal dengan nama “Komisioning”), hal ini ditujukan untuk menjaga kinerja bangunan yang telah diklaim dan disahkan ramah dan hemat terhadap penggunaan energi-air dan sumber daya lainnya, berada dalam kondisi yang optimum sesuai dengan standar dan prosedur operasi yang telah ditetapkan pada tahap awal.

Kesemuanya dapat terjadi jika ada komitmen bersama untuk dapat menghasilkan suatu bangunan yang dapat dikatakan “green building” dengan menggaris bawahi disini bahwa “green building” harus didesiminasi ke semua kalangan, semua strata sosial serta jabatan tanpa ada perbedaan apapun dikarenakan begitu mudah untuk memulainya, walaupun berbentuk sekecil apapun.

Menjadi hijau tidak lah mahal dan sulit seperti yang anda kira, bahkan efek jangka panjangnya dapat kita rasakan hingga ke anak cucu kita dengan biaya yang lebih murah sehingga hidup hijau itu mempunyai nilai ekonomi yang pasti menguntungkan anda semua.

Tema kaleidoskop 2011 diangkat oleh GBC Indonesia pada acara sharingnya yang terakhir di sepanjang tahun 2011 ini. Karena di tahun 2011 ini merupakan tahun yang bersejarah dalam perjalanannya dalam menyelenggarakan gerakan gedung ramah lingkungan di Indonesia sejak berdirinya di tahun 2009 silam. Proses bersejarah ini juga ditandai dengan selesainya proses sertifikasi dua gedung proyek GREENSHIP hasil sertifikasi Green Building Council Indonesia

Ucapan selamat ditujukan kepada Gedung Menara BCA – PT Grand Indonesia menyertai atas keberhasilannya memperoleh Sertifikat GREENSHIP untuk Gedung Terbangun (Existing Building) dengan peringkat PLATINUM. 

Serta ucapan selamat juga menyertai kepada Gedung Kantor Manajemen Pusat (Kampus) PT Dahana (Persero) – Subang yang berhasil memperoleh Sertifikat GREENSHIP untuk Gedung Baru (New Building) dengan peringkat PLATINUM. Sehingga kedua gedung tersebut oleh Green Building Council Indonesia telah dinyatakan layak untuk memperoleh sertifikat GREENSHIP setelah menjalani proses sertifikasi selama kurun waktu satu tahun terakhir.

Untuk pula diketahui bahwa gedung-gedung di atas yang telah menerima sertifikasi GREENSHIP kami bukanlah dari kalangan atau milik Corporate Founding member kami. Hal ini sekedar membuktikan khalayak bahwa konsep, gerakan dan pengejewantahan pratik-praktik ramah lingkungan bukan lagi merupakan hal yang baru, telah banyak kecenderungan pasar terhadap kesadaran betapa pentingnya penerapan prinsip ini. Sehingga sudah selayaknya kami bersama-sama dengan anda semua mengedukasi pengetahuan yang cukup akan aksesbilitas informasi, praktik-praktik dan produk-produk ramah lingkungan.

Perangkat penilaian GREENSHIP yang kami gunakan merupakan alat bantu bagi para pelaku industri bangunan berisikan kriteria-kriteria penilaian sebagai bagian dari bentuk nyata upaya kita bersama dalam menjembatani konsep kegiatan ramah lingkungan dan prinsip keberlanjutan pembangunan melalui kegiatan praktik-praktik yang terjadi secara empirik.

Green Building Council Indonesia akan senantisa hadir dan berkarya dengan rasa terpanggil, guna menyikapi secara agresif seluruh lapisan kegiatan pembangunan tanpa terkecuali dengan bermuara pada semangat untuk melakukan inisiatif konservasi energi, mengukur dampak pada lingkungan luar bangunan bersamaan dengan memperbaiki lingkungan dalam bangunan.

Tak tertinggal juga terhadap aspek kesehatan dan keberlangsungan penghuninya sebagai bagian dari strategi komprehensif untuk menurunkan emisi karbon dan dampak gas rumah kaca sebagai sumber pencetus pemanasan global.

Di tahun 2012 mendatang, GBC Indonesia akan segera meluncurkan sistem perangkat penilaian Bangunan Hijau GREENSHIP untuk ‘Ruang Dalam (Interior Space)’ dimana objek penilaiannya akan lebih bertitik berat pada pengutamaan faktor manajemen pengguna, perilaku pihak pengguna dan perancangan ruangan di dalam bangunan untuk tujuan kesehatan dan kenyamanan para penggunanya. Sehingga menghasilkan persepsi, pengenalan serta perilaku sebagai tanggapan positif terhadap desain suatu ruang didalam suatu bangunan.

Sistem perangkat penilaian selanjutnya yaitu GREENSHIP ‘Home’ bersama dengan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) yang diharapkan dapat dikeluarkan tahun mendatang juga demi menjawab tantangan terbesar penyediaan tempat tinggal yang sehat, layak dan ramah lingkungan agar lahan untuk aktivitas penduduk  tidak mendesak keberadaan ruang terbuka hijau serta tidak pula meninggalkan jejak karbon yang tinggi yang berdampak negatif di lingkungan.

Pada kesempatan ini tak lupa pula GBC Indonesia sangat menghormati dan menghargai kepada jajaran dari Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perumahan Rakyat, Kementerian Perindustrian, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan serta tak lupa Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta atas dukungan penuh dan kerjasama yang sudah terjalin bersama hingga saat ini terhadap gerakan kami untuk diberikan sumbangsihnya kepada bangsa ini.

Kami sangat berharap agar dukungan dan komitmen ini berkesinambungan dari semua pihak tanpa terkecuali dari kalangan pemerintah, untuk bersama-sama membuat blueprint ‘Green Building’ bagi Indonesia sehingga komitmen yang diutarakan pemimpin bangsa ini di ajang pertemuan internasional lalu, untuk berusaha penurunan emisi CO2 di Indonesia sebesar 26 persen, dapat direalisasikan secara kongkret. Harapannya terhadap seluruh para pelaku industri bangunan, yang berkeinginan untuk mengimplementasikan konsep bangunan hijau tercapai dikarenakan tidak sulitnya kriteria yang dituntut dari Perangkat Penilaian GREENSHIP yang kami susun.

Dengan terealisasikanya gerakan ini, diharapkan akan semakin banyaknya lagi pihak-pihak apapun pekerjaan, status atau kepentingannya untuk ikut serta menjadi agen perubahan yang berkeinginan menerapkan cara hidup mulia ini, sehingga pelaksanaan konsep bangunan hijau menjadi suatu hal yang akan menjadi persepsi, cara pandang mendatang dan kebiasaaan umum untuk hijaunya Indonesia.

Terima kasih atas kontribusi yang sangat signifikan untuk perjalanan transformasi yang telah dilakukan bersama kami di tahun 2011 menuju lingkungan yang lebih berkelanjutan, sehat dan sejahtera. Semoga kita dapat menatap tahun kedepan 2012 dengan sikap optimis yang besar untuk mengembangkan gerakan “bangunan hijau” lebih jauh dan lebih baik lagi.

(Resource GBC Indonesia 2011)

Dear all GBC Indonesia blog’ readers, 

With 2011 drawing to a close, we would like to cordially thank you for your supporting to Green Building Council Indonesia in placing your trust and faith with us in the past years. These are just representing a few of the tangible steps that have made a measurable, meaningful difference in millions of achievement for the future world and human life.

And we’re certain that, with every kind of your continuing contribution in the few years to come, we can together build a better GREEN world where every our next generation has the same opportunity and chance to live in.

From everyone at the GBC Indonesia, we wish you have a joyful festive season and happy prosperous New Year in 2012.

Sebagai persembahan kepada bangsa, Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia) akan menyelenggarakan acara terpentingnya di tahun mendatang yaitu GREENRIGHT 2012 dengan tujuan untuk mengajak kalangan industri, profesional, akademik, pengembang, kontraktor, pemerintah dan masyarakat umum termasuk anda semua untuk bersama-sama menjadi “agen perubahan” demi tujuan hari esok pembangunan bangsa kita kearah hijau dan berkelanjutan.

Kata perubahan (changing) menjadi sangat awam ditelinga kita. Perubahan menjadi sahabat kita sehari-hari, dalam setiap sudut kehidupan, termasuk perubahan iklim akibat pemanasan global yang kian mengkhawatirkan ditahun-tahun mendatang sebagai respon dari perubahan perilaku kita dalam memperhatikan lingkungan sewaktu kita mengisi pembangunan. Perubahan iklim telah membuat kita harus juga berubah suka tidak suka untuk melindungi keberlanjutan planet tempat kita berpijak dan yang akan kita wariskan kesejahteraannya bagi anak cucu kita mendatang.

Green Building Council Indonesia lahir di Indonesia dengan mempunyai peran sebagai agen perubahan. Melalui acara GREEN RIGHT 2012, kami mengajak Bapak/Ibu dari kalangan industri untuk ikut berpartisipasi dalam acara kami. Acara yang akan kami adakan tepatnya pada tanggal 11-13 April 2012 mendatang ini dikemas sangat berbeda dengan acara lain yang pernah dijumpai sebelumnya, karena para pelaku industri tidak akan hanya sekedar mempromosikan produk yang akan mereka dipamerkan, namun seraya memberikan kesempatan bagi para pelaku industri agar mampu mengenalkan lebih dekat pengetahuan akan produk dan inovasinya yang ramah lingkungan kepada masyarakat dari berbagai latar belakang. Selain itu para pelaku industri dapat menunjukkan “kelasnya” sebagai pelaku yang berpikiran maju dan mampu menyambut tuntutan perubahan generasi serta mengenal pengetahuan mengenai tuntutan pasar lebih dalam dimasa mendatang yang akhirnya diharapkan dalam waktu yang bersamaan dapat merangsang kegiatan industrinya untuk mengadakan riset dan inovasi lebih dalam lagi guna menghasilkan produk-produk yang makin handal, ramah lingkungan dalam penggunaannya serta dapat bersaing sehat dengan produk – produk dari luar tanpa harus menjadi tamu di negara sendiri.

Bila kita melihat jeli makna dari dilangsungkannya acara mulia ini, pastilah akan terpikir bahwa sebenarnya kita masih diberikan kesempatan, waktu dan tempat untuk memperbaiki gaya hidup, pola produksi dan konsumsi kita terhadap suatu hasil karya manusia guna dijadikan amunisi untuk tetap hidup bertahan beradaptasi menghadapi perubahan-perubahan iklim dan efek-efek buruk yang mengikutinya. Oleh karenanya, pergunakan dengan baik kesempatan ini!

Setelah kami pelajari, banyak bertanya, dan mengadakan beberapa riset serta observasi di lapangan, kami menemukan masih banyaknya dari para profesional, kontraktor, pengembang yang masih kurang mengenal dan paham bagaimana membedakan produk yang ramah lingkungan dengan produk yang tidak ramah lingkungan. Kadang kita berpikir bahwa hal tersebut terjadi karena kesalahan semata dari seorang penjual ataupun pramuniaga yang mungkin kurang menguasai dalam mempelajari mengenai product knowledge. Namun ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan yaitu kurangnya penyebaran informasi produk dan jasa secara aktif, sosialisasi, transfer keilmuan serta penerapan teknologi yang hanya berjalan sepihak, hingga akhirnya sulit untuk dapat dijangkau manfaatnya di kalangan masyarakat awam. Akibat terburuknya adalah produk-produk ramah lingkungan yang menjadi unggulan tersebut, justru malah dijual dan terkenal di negara orang lain yang akhirnya keuntungannya pun dirasakan hanya sepihak.

Di sinilah baru dirasakan pentingnya peranan para profesional seperti arsitek dan desainer interior untuk terlebih dahulu memahami memperkaya pengetahuan tentang referensi produk ramah lingkungan yang unggul agar selanjutnya mereka dapat mengajarkannya kepada para pengguna jasa mereka untuk hanya menggunakan produk dalam negeri yang juga hanya ramah terhadap lingkungan. Sekaligus menjelaskan keuntungan yang akan diperoleh dalam jangka waktu panjang walaupun dengan sedikit investasi awal, sehingga terciptalah suatu proses transfer keilmuan dan pengetahuan.

Lebih dari itu, GREENRIGHT juga merencanakan konsep Student Day, dimana telah merangkul hampir kurang lebih sebanyak 28 perguruan tinggi dan sekolah-sekolah di pelosok negeri untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang bangunan hijau sejak sedini mungkin mulai dari bangku sekolah. Memperkenalkan praktik-praktik terbaik anak bangsa, sehingga mereka tidak akan bimbang untuk mulai menentukan pilihan serta penilaian terhadap suatu produk hasil industri, sebagai referensinya kelak dalam membangun serta merekomendasikannya kembali kepada kerabat sekitar di kemudian hari. Subjek yang akan diperhatikan tak luput adalah para mahasiswa dari berbagai jurusan terkait, yang khususnya akan diberikan kesempatan untuk terlibat dalam penciptaan produk sederhana ramah lingkungan sesuai dengan pengalaman dan kemampuannya sendiri, melalui serangkaian agenda sayembara.

Sedangkan melalui ajang pameran akbar (exhibition), bersama dengan para industri pelopor gerakan hijau, kami akan mulai menularkan kebiasaan positif ini (“Be one who is first who concern about the people and the planet”) yang akan lebih ditekankan penerapannya kepada bangunan baru, tak terlepas untuk bangunan bertingkat tinggi, yang akan semakin marak trennya kedepan sejalan dengan makin tingginya ego para perancang bangunan. Pasalnya, proses pembangunan bangunan bertingkat tinggi ini memakan waktu lebih lama daripada proyek residensial, terlebih bangunan yang merupakan kategori mega proyek dan multi struktural.    

Hal lain yang menjadi perhatian, tentang pendalaman akan pengetahuan bahan bangunan serta teknik cara membangun yang diharuskan tersedia demi menjawab permasalahan hingga ke pihak-pihak yang terkait langsung di lapangan, selain dipertajam sewaktu masih digodok dalam konsep perancangan. Dalam tahap ini pula, dukungan dan kesiapan dari para industri akan sangat ditunggu untuk merespon kebutuhan pasar dan hak publik akan kebutuhan produk yang ramah lingkungan.

Hasil yang diharapkan setelah selesai mengunjungi pameran ini diharapkan, mereka akan langsung dapat mengerti dan mengenal lebih dalam akan karakteristik, serta keunggulan yang ditawarkan oleh produk yang dipamerkan. Sehingga semakin cepat dikenalnya suatu produk ramah lingkungan dipasaran, akan semakin cepatnya “Green Movement” ini digulirkan melalui pemeringkatan produk ramah lingkungan yang hingga saat ini masih kami susun dan klasifikasikan daftarnya melalui Green Listing.

Selain pameran dan eksibisi, akan disuguhkan seminar ber-seri dalam GREENRIGHT ini dimana kami kelompokkan menjadi tiga track seminar dengan topik yang berbeda sesuai dengan isu hangat terkini yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan tren green building di berbagai sektor pembangunan, antara lain; isu Green Building itu sendiri. Sebagai induk dan dasar pemikiran yang harus dahulu dipahami sebelum mulai diaplikasikan secara spesifik ke berbagai sektor industri yang berkeinginan untuk dijadikan contoh teladan di masyarakat.

Lalu akan diikuti dengan isu hangat seputar Green Hospitality, dimana kami patut menginformasikan secara luas gerakan ini bersamaan dengan himbauan dan instruksi yang telah dilansir oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, untuk bersama-sama menerapkan kaidah-kaidah perkehidupan dan membangun dengan hijau di semua sektor pariwisata serta pendukungnya termasuk didalamnya industri Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) demi terciptanya Pariwisata Yang Berkelanjutan ditingkat nasional maupun ditingkat ASEAN.

Isu lain yang tidak kalah penting bagi kami untuk mengupasnya adalah tentang Green Hospital, dikarenakan perlunya penerapan hal ini didalam industri rumah sakit, farmasi dan laboratorium sebagai wadah penyedia jasa industri kesehatan. Hal yang menjadi perhatian mulai dari inisiatif penghematan pemakaian energi, air, material, dan manajemen pengolahan sampahnya sendiri serta yang terpenting yaitu terciptanya kenyamanan dan kesehatan udaranya sendiri baik bagi pengguna di dalam bangunan maupun di sekelilingnya.

Keikut sertaan perusahaan-perusahaan di Indonesia akan menjadi kontribusi yang sangat besar dan bermanfaat bagi negeri ini yang sedang dalam proses membangun kearah berkelanjutan.

Dengan mengangkat tema “Adapt to Sustain” guna memberikan pesan kepada pengunjung bahwa semua manusia harus tergerak untuk berubah beradaptasi sesuai dengan kemauan dan kemampuannya sendiri melalui berperilaku hijau agar dapat hidup selaras dengan alam tanpa membebaninya.

Di negara-negara maju pameran serupa seperti ini telah mendapat dukungan penuh yang sangat signifikan dari para industrinya sebagai kewajiban untuk mempersiapkan dukungan lingkungan di masa datang dan serta menyesuaikan dengan kebutuhan generasi yang akan datang melalui inovasi-inovasi produk mereka.

Apabila dirasa suatu produk sudah tidak dapat menjawab permintaan pasar pada suatu masa, maka mereka dengan cepat akan ditinggalkan dan digantikan oleh produk-produk yang lebih dapat bertahan dan diterima. Seiring dengan hal tersebut, dituntut pula wawasan para perlaku industri untuk terus diperluas agar dapat juga terus mengedukasi pasar tentang suatu produk yang dihasilkan. Produk yang hijau akan membentuk desain yang hijau yang tentunya akan diakhiri dengan pengaruhnya terhadap hidup yang hijau.

Kedepan, pemerintah juga akan menerapkan Green Procurement, dimana akan lebih selektif dalam menentukan kebijakan guna mendasari proses produksi dan pengadaan suatu produk untuk sebuah kegiatan belanja di semua instansi. Lalu Green Construction, untuk mengatur praktik-praktik penyelenggaraan konstruksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan yang sudah barang tentu membutuhkan dukungan pasar industri yang lebih siap, tersedia serta mudah diakses guna memajukan kegiatan perkenomian. Terakhir merupakan gabungan dari keduanya yaitu Green Construction Procurement, dimana transformasi konstruksi Indonesia akan beragendakan untuk menggairahkan perkembangan sektor konstruksi yang berkelanjutan di tahun depan. Melalui pendekatan strategis dan pendayagunaan sumber daya konstruksi nasional maupun global. Diantaranya melalui pemberian rencana pemberian insentif dari pemerintah dan dukungan untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi usaha maupun pemangku kepentingan sektor konstruksi lainnya dengan pengembangan semua potensi yang sudah ada secara kreatif.

Himbauan terhadap para industri dalam menghasilkan produknya semakin gencar dilakukan, jangan hanya mementingkan dalam pengujian faktor lingkungannya saja namun perlu dihimbau harus sampai pada pembuktian terhadap efek ke penggunanya juga yang perlu diperhatikan. Terutama faktor kesehatan dan keamanan bagi penggunanya ke depan karena biasanya efek buruknya baru dapat dirasakan setelah dalam jangka waktu yang lama. Sering kali dijumpai, produk yang ramah terhadap lingkungan namun dalam jangka waktu yang panjang masih dapat mengancam kesehatan penggunanya.

Di setiap sesi seminar yang disusun, juga akan turut diperkaya oleh beberapa pembicara lokal dan internasional dari berbagai kalangan yang berbeda latar belakang, mempunyai serangkaian penghargaan dan sepak terjang yang tidak diragukan lagi dalam mengisi pembangunan. Ide dan gagasan yang mereka akan bagi, adalah contoh studi kasus yang terjadi nyata di lapangan beserta dengan cara pengambilan keputusan untuk menentukan solusi, guna memberikan gambaran yang lebih kongkret tentang penyelesaian permasalahan yang kita temui di atas. Untuk itu, kami harapkan para industri juga dapat menjadi sponsor bagi pembicara-pembicara yang akan berpartisipasi. Jika dirasakan mempunyai calon kandidat yang kompeten untuk mengisi salah satu track diacara kami, kami akan sangat menghargainya. Sebagai penghargaannya, para industri yang ikut terlibat dapat juga sekaligus mempromosikan produknya bersamaan dengan berlangsungnya acara ini, sehingga begitu banyaknya manfaat yang dapat kita petik dan teladani ketika kita selesai mengikuti serangkain seminar ini.

Dengan adanya serangkaian tempat yang telah disediakan melalui GREENRIGHT 2012, mari kita bangun Indonesia untuk lebih baik, dengan bergabung bersama gerakan hijau kami, daftarkan diri anda sekarang juga untuk ikut berperan penting dalam meningkatkan preferensi pasar yang lebih tinggi di tanah air. Jangan ragu lagi karena teman-teman di barisan depan sudah menunggu anda untuk bergabung. Bersiaplah untuk berubah untuk sebuah keberlanjutan yang pasti.  Save the date! and JOINT US TO BE PART OF THE NEXT..!

Selamat Tahun Baru 2012 bagi kita semua. Jadikanlah resolusi anda di tahun depan untuk membangun negeri ini lebih maju, sehat dan berperilaku hijau didalam mengisi pembangunannya

Green Building Council Indonesia