2.0: Green Building Response to COP24 Menyelaraskan Kebutuhan dalam Pelestarian Bumi dengan Peningkatan Standar Bangunan Hijau di Indonesia

COP24 adalah Konferensi ke 24 dari organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dihadiri oleh seluruh negara di dunia untuk membahas masalah Perubahan Cuaca (Climate Change) yang salah satu agenda utamanya adalah mengupayakan agar kenaikan rata-rata temperatur bumi tidak lebih dari 2 derajat Celcius pada tahun 2050, bahkan pada Konferensi ke 21 pagu nya adalah pada tahun 2030 kenaikan suhu bumi dipatok tidak lebih dari 1.5 derajat Celcius. Konsekwensi dari kenaikan rata-rata temperatur bumi akan mengakibatkan kelangsung kehidupan di bumi terganggu. Sebagai contoh akibat kenaikan suhu bumi, adalah terjadi hujan yang ekstrim lebat di sebagian wilayah Indonesia dan di wilayah Indonesia lainnya kekurangan hujan atau anging puting beliung yang terjadi di tahun 1960an tidak sampai mengangkat atap rumah, maka belakangan ini angin puting beliung memperporakkan atap-atap bangunan sederhana. Hujan lebat yang terjadi dibarengin angin yang kencang dan kuat menumbangkan beberapa pohon-pohon.

Untuk mengantisipasi permasalahan ini salah satu organisasi PBB yaitu Intergovernental Panel on Climate Change (IPCC), yang Indonesia menjadi anggota dan melibatkan para ahli Indonesia dalam mengidentifikasi, merumuskan dan memberi masukan berdasar hasil-hasil penelitian dari seluruh dunia agar dapat menjadi dasar penyesuaian kebijaksanaan negara-negara di seluruh dunia dalam menanggapi Climate Change.

Dari semua infrastruktur yang diperlukan manusia untuk menopang kegiatan kehidupan, bangunan dan transportasi memberikan kontribusi yang hampir sama dan cukup besar dibandingkan sektor-sektor yang lainnya terhadap pemanasan bumi, karena energi yang dimanfaakan menghasilkan gas buang salah satu yang terbesar adalah Karbon Dioksa (CO2) yang terkumpul dalam volume yang sangat-sangat besar pada lapisan atmosphere mengakibatkan panas bumi yang terjadi tidak semuanya terlepas keruang angkasa. Dengan berkurangnya hutan-hutan khususnya dari daerah tropis mengakibatkan bumi tidak mampu untuk menyerap CO2 yang diakibatkan oleh aktivitas manusia, seingga terjadi pemanasan global dari bumi.

Green Building Council Indonesia (GBCI) yang merupakan organisasi non-pemerintah dan organisasi nir-laba yang berafiliasi dengan Green Building Council lainnya diseluruh dunia dalam naungan World Green Building Council turut aktif dalam upaya agar penggunaan energi lebih effisien, konservasi penggunaan air, menggunakan material yang memberikan dampak karbon yang rendah, memastikan lingkungan dalam gedung memenuhi standard kesehatan dari kwalitas udaranya agar produktifitas manusia meningkat dan yang terakhir adalah Building environment management.

COP24 menuntut bahwa semua stakeholder berperan secara aktif dalam upaya menahan kenaikan temperatur bumi dimana GBCI memperkenalkan New Building 2.0 (NB 2.0) dengan Rating Tool lebih ketat dari NB 1.2 semoga penggunaan energi dari gedung lebih efisien, koservasi air lebih besar, penggunaan material bangunan lebih rendah karbon footprint, kualitas udara dalam gedung lebih baik dan dengan building environment management yang lebih baik juga, yaitu memberikan tekanan pada kwalitas udara dan suwasana bangunan yang menuju sehat dan sejahtera agar produktifitasnya manusianya jauh lebih baik. Dengan terjadinya bencana baik secara alami dan yang diakibatkan aktivitas manusia Rating Tool NB 2.0 juga mencantumkan masalah KETAHANAN (RESILIENCE).

Tidak mungkin GBCI berupaya sendirian tanpa kolaborasi dengan Pemerintah, Swasta dalam semua sektor industri dan lainnya, karena kontribusi energi terbesar adalah Pemerintah khusus nya dibidang energi yang masih didominasi oleh pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang kandungan emisi karbonnya sangat tinggi dan masih banyak bangunan-bangunan pemerintah dan swasta belum menerapkan GBCI Rating Tool. Upaya transformasi dari aktivitas sehari-sehari menuju kesadaran dimana apa yang manusia lakukan harus dengan kesadaran apa dampaknya terhadap lingkungannya, khususnya terhadap lingkuan alam (Natural Environment), karena hanya Natural Environment dengan Balanced Ecosystem yang dapat memperbaikan kerusakan yang telah terjadi. Maka tidak ada pilihan untuk meninggal bahan bakar fosil beralih ke renewable clean enrgy dan limbah yang dihasilkan tidak dapat begitu saja dibuang ke bumi, bumi sudah tidak mampumenrima tanpa merusak keseimbangan alam.

Dalam acara ini juga diselenggarakan penyerahan hadiah dari Kompetisi Inovasi dan Gagasan Desain Facade Bangunan yang memperebutkan hadiah utama berupa Research Grant sebesar Rp30.000.000 dan dimenangkan oleh mahasiswa dari Universitas Lambung Mangkurat. Kompetisi ini terselenggara atas kerjasama GBC Indonesia dengan Ikatan Arsitek Indonesia, dan didukung oleh AGC Grup.

2.0: Green Building Response didukung oleh PT. Bumi Serpong Damai dan PT. Waskita Karya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *