goes to campus copy

”RESET Mindset – SMART Way To Be Green”

 

A. LATAR BELAKANG

Perubahan iklim saat ini menjadi suatu istilah yang kerap kali ditemui, baik dalam pemberitaan media massa maupun dalam percakapan sehari-hari. Berbagai penelitian terkait dengan dampak perubahan iklim yang disebabkan oleh gas rumah kaca telah dikeluarkan oleh berbagai lembaga penelitian Internasional.Hal ini pula yang mendorong negara-negara di seluruh dunia melakukan diskusi secara serius dan berkomitmen untuk melakukan upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

Pada tanggal 30 November hingga 11 Desember 2015, Dewan Internasional Perubahan Iklim (UNFCC) mengadakan Konferensi Internasional perubahan iklim, yaitu Conference of the Parties (COP) 21 di Paris. Dalam COP 21 ini,

negara-negara anggota PBB membuat suatu rencana yang dikenal dengan Intended Nationally Determined Contributions (INDCs). Rencana Indonesia yang dituangkan dalam INDCs menyatakan komitmen penurunan emisi  sebesar 29% dari tahun 2010. Negara-negara ini juga memberikan pernyataan untuk

secara serius melakukan upaya penurunan emisi gas rumah kaca dan membatasi peningkatan suhu bumi hingga 2 derajat Celsius diatas masa pra-industri.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Konferensi Perubahan Iklim, Bangunan masuk dalam agenda pembicaraan dan memiliki satu sesi khusus.Penerapan konsep bangunan hijau kini terbukti sebagai salah satu upaya yang secara signifikan dapat membantu pencapaian penurunan emisi gas rumah kaca.

Desain yang ramah lingkungan melalui penggunaan teknologi, penerapan kearifan lokal, penyesuaian terhadap iklim dan kondisi lokal, serta pengurangan penggunaan sumber daya alam dalam bentuk ENERGI, AIR serta MATERIAL, merupakan inti dari konsep bangunan gedung hijau. Desain bangunan yang menggunakan konsep bangunan hijau juga memberikan pengaruh secara positif bagi kesehatan penghuni gedung. Hal ini tentunya menjadi nilai tambah, sekaligus dapat menjawab tantangan Indonesia dalam peningkatan kompetensi manusia Indonesia yang berdaya saing.

B. ACARA

  1. SEMINAR ROADSHOW

Pada pertengahan bulan Januari – Mei 2017, GBC Indonesia bekerjasama dengan beberapa industri yang peduli dengan lingkungan yang berkelanjutan akan mengadakan seminar Roadshow “Green Goes To Campus” (GGTC) sebagai upaya untuk melakukan transformasi dan mengubah paradigma dari generasi muda Indonesia mengenai kondisi bumi kita serta apa pengaruh kegiatan yang dilakukan manusia terhadap kerusakan yang terjadi.

Kampus merupakan tempat berkumpul dari calon profesional dan juga tokoh Indonesia di masa depan. Oleh karena itu kampus menjadi tempat yang paling tepat untuk menjaring para agen perubahan.

2. KOMPETISI MAHASISWA

Dalam acara Green Goes To Campus ini juga akan diadakan kompetisi bagi mahasiswa untuk memaparkan ide atau gagasan mengenai cara mengubah pola pikir masyarakat luas dalam mengenal produk ramah lingkungan. Kompetisi ini membawa tema “Reset Mindset : Smart Way To Be Green“ dan pemenangnya disebut sebagai “Green Champion” untuk masing-masing kategori (Air, Energi dan Material & Sampah).

Kompetisi ini merupakan kompetisi perseorangan dan dikhususkan untuk mahasiswa.

Skema Kompetisi :

    1. Mahasiswa diminta untuk membuat abstraksi dan juga paparan dalam bentuk Power Point (max.15 slide) dan Video yang berisi mengenai gagasan mereka dalam merubah pola pikir masyarakat dalam berperilaku dan menjaga lingkungan dan cara memberikan edukasi publik dan memiliki kharismatik dalam penyampaian agar masyarakat berubah, serta dapat memberi inspirasi.
    2. Terdapat 3 kategori champion yang akan dipilih, yaitu :
      • Energi
      • Air
      • Material dan Sampah
    3. Paparan dalam Power point berupa gabungan gambar dan tulisan.
    4. Akan dipilih 1 (satu) pemenang dari masing-masing kategori
    5. Peserta wajib melakukan pendaftaran. Batas waktu akhir pendaftaran pada tanggal 31 Mei 2017
    6. Pemenang juga diwajibkan untuk mengirimkan video dokumentasi perwujudan gagasan mereka dalam durasi 5 menit ke panitia untuk dinilai
    7. Batas akhir pengiriman materi kompetisi (presentasi & video) pada tanggal 31 Juni 2017
    8. Nama pemenang akan diumumkan pada bulan Agustus 2017
    9. Penyerahan hadiah kepada pemenang akan dilakukan pada acara World Green Building Week di bulan September 2017 (to be confirm).
    10. Materi kompetisi yang diterima oleh panitia menjadi hak milik dari penyelenggara,
    11. Kerangka acuan kompetisi yang berisi mengenai detail serta persyaratan dapat dijelaskan pada saat seminar.

 TUJUAN

  1. Memberikan pengetahuan mengenai produk-produk ramah lingkungan bagi kalangan mahasiswa sebagai agen perubahan di masa depan.
  2. Meningkatkan kesadaran (awareness) serta pemahaman (understanding) mengenai produk-produk ramah lingkungan.
  3. Membangun corporate image yang positif terhadap green movement di Indonesia.
  4. Untuk mendorong supplier dan produsen untuk menghasilkan lebih banyak produk bangunan ramah lingkungan
  5. Memperluas networking dalam komunitas Green Building di Indonesia.
  6. Sebagai salah satu sarana dalam menggemban tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan yang berkelanjutan.

TARGET PESERTA

Mahasiswa tingkat 4 – 5, jurusan :

Arsitektur, Sipil, Interior Design, Mesin, dan Fisika Bangunan

C. MANFAAT BAGI PERUSAHAAN

  1. Untuk memenuhi kebutuhan out sourcing di kalangan industri dan profesional,
  2. Terbentuknya suatu jaringan (network) baru dan up to date antar industri dan kalangan akademis, dimana network tersebut merupakan salah satu hal yang penting bagi industri mengingat para mahasiswa tersebut adalah calon-calon profesional di masa datang.
  3. Industri dapat menilai kualitas mahasiswa yang di hasilkan dari Universitas
  4. Mempermudah industri menilai seberapa jauh produk mereka dikenal calon profesional.

 

D. BENTUK KEPERSERTAAN GREEN GOES TO CAMPUS

Dengan Kontraprestasi :

  • Sesi Persentasi (Product Knowledge) selama ± 20 menit.
  • Lahan display product.
  • Pencantuman Logo Perusahaan (Industri) pada setiap Media Promosi (Poster, Spanduk, Backdrop, dan kit peserta workshop, sertifikat).
  • Database peserta.

Partisipasi perusahaan untuk program Green Goes To Campus adalah untuk :

  • Konsumsi mahasiswa
  • Sertifikat peserta.
  • Backdrop dan poster.
  • Merchandise
  • Alat tulis

E. SUSUNAN ACARA

  • Pembukaan oleh wakil Universitas
  • Green Seminar
  • Product Knowledge oleh Perusahaan (sponsor).
  • Penjelasan mengenai Kompetisi Mahasiswa
  • Tanya jawab.

GBC Indonesia mengundang seluruh anggota dari berbagai industri untuk dapat turut berpartisipasi dalam acara Grand Launching program GGTC yang akan diadakan pada bulan September 2016 dalam rangka memperingati World Green Building Weeks.

Cara Berpartisipasi

Bergabunglah bersama GBC Indonesia dengan menjadi bagian dari gerakan hijau berkelanjutan. Para industri dari berbagai bidang usaha dapat mendukung kegiatan – kegiatan di atas, bertemu dengan para peserta dan meluaskan jaringan serta dikenal sebagai perusahaan yang peduli untuk bersama menjadikan lingkungan menjadi lebih baik dan berkelanjutan. Donasi dukungan dapat dipilih dari paket berikut :

Untuk informasi lebih lanjut & berpartisipasi dalam program GGTC  ini dapat menghubungi :

Artho (e) suharto@gbcindonesia.org (m) 08983359555 atau

Tito (e) titoaribowo@gbcindonesia.org (m) 085693051319

Disaat ekonomi dunia sedang lesu seperti saat ini, apakah dunia bisnis harus semangat nya ikut menurun  untuk membangun properti?

Sejarah mencatat bahwa pergerakan ekonomi, politik dan properti suatu negara akan dipengaruhi oleh berbagai keadaan / peristiwa di berbagai negara atau wilayah lain. img-01

Misalnya, di saat ekonomi Amerika Serikat “bubble”, pasar perbankan berjatuhan akibat “prime mortgage”, sementara China saat itu sedang “booming” membangun ekonominya sehingga efek domino nya ke mempengaruhi beberapa negara seperti Indonesia dan ASEAN sebagai sumber komoditas yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan negara China dengan penduduknya yang lebih dari 1 Milyar.

Namun tidak berapa lama kemudian pasar China pun menjadi jenuh karena pertumbuhan penduduk sudah mencapai kesejahteraan dan pendapatan semakin meningkat, angka kelahiran menurun, sementara para penduduk usia lanjut (yang kurang produktif) semakin meningkat.

Akibatnya pelemahan ekonomi China terus  menjalar ke beberapa negara berkembang termasuk Indonesia dan ASEAN.

Namun perkembangan kemajuan China ternyata mengakibatkan jatuh banyak “korban”, yaitu dampak POLUSI udara, air dan pencemaran yang mematikan penduduk sekitarnya. Bahkan kota Beijing (Ibukota RRC) selama berbulan-bulan mengalami kabut asap pekat, penduduk kesulitan bernafas dimana-mana. Air minum bersih semakin sulit dicari. Hutan semakin langka akibat pembukaan lahan untuk perumahan, pembangunan apartemen, dan bangunan-bangunan tinggi.

Melihat keadaan pelik tersebut China belajar untuk memahami bahwa jika hidup “ambisi” tanpa mengingat alam dimana berpijak, akibatnya alam pun “menjadi lawan tidak bersahabat” bagi kehidupan manusia. Pengalaman ini membuat China dan negara-negara maju mengadakan perubahan total dalam pembangunan. Salah satunya pembangunan yang mendukung ramah lingkungan, hemat energi, dan menyelamatkan bumi agar penduduk dapat bertahan dalam lingkungan yang asri dan nyaman.

img-02Kalau dahulu pembangunan China “semau gue” merusak alam, menjadikan batu bara menjadi tenaga listrik dan membuang asap hasil pembakaran listrik ke udara, membuka hutan lindung demi pembangunan kawasan kota terpadu, sekarang negara ini sedang mengejar pembangunan ramah lingkungan, mereka membangun banyak “lahan” panel tenaga matahari, angin maupun panas bumi untuk menggantikan material pencemar udara seperti batu bara, minyak bumi, dan nuklir.

Begitu pula perkembangan properti dunia yang diawali dengan “perusakan alam” oleh beberapa negara berkembang dan maju, menuntut manusia untuk berpikir ulang membangun rumah dan hunian yang “segar, nyaman, dan hemat energi”.

Saat ini berbagai konsep baru mulai ditawarkan oleh pengembang properti. Mulai dari konsep “Urban Living”, yaitu sebuah konsep yang menganut kemajuan peradaban modern ala perkotaan dengan tetap memperhatikan faktor kesehatan dan kelestarian lingkungan alam.

img-03Dengan konsep “Urban Living” biasanya dibuat bergaya arsitektur masa kini (kontemporer atau minimalis) dengan diperlengkapi perangkat yang dapat menghemat listrik, menghemat air dan ramah lingkungan.

Konsep hunian lainnya adalah “Green Living atau Green Building” sebuah inovasi di dalam penciptaan lingkungan hunian yang memenuhi kinerja dalam bijak guna lahan, dibangun dengan kemampuan menghemat air dan energi, memiliki fasilitas yang dapat mengurangi limbah, serta mampu menjaga kualitas udara dalam ruangan.

Bagaimana pengembang dapat menangkap peluang bisnis dari konsep “Green Building” ini?

img-04Ternyata Green Building atau Bangunan Hijau sudah menjadi hal yang mendesak saat ini terutama bagi masa depan dunia yang sehat dan hemat energi, oleh Bank Dunia (World Bank) melalui grup nya IFC (International Finance Corporation) yaitu membuat program EDGE (Excellence in Design For Greater Effeciencies), yaitu sistem sertifikasi bangunan hijau untuk pasar yang sedang tumbuh.

Sistem ini merupakan “sistem yang terukur” bagi para pelaku konstruksi guna mengoptimalkan rancang bangun mereka menjadi layak investasi dan layak dipasarkan. EDGE selaras dengan kebutuhan para pengembang (owner building) untuk tetap berada dijajaran terdepan dalam era bangunan hijau.

EDGE untuk Rumah (Hunian)

Pembeli hunian yang cerdas, akan memahami manfaat nyata yang akan didapat oleh Bangunan Hijau. Melalui solusi seperti:

– Pencahayaan hemat energi

– Kaca thermal & penghematan air

Pengembang (Developer) bisa memenuhi harapan konsumen, yang berkeinginan menghemat pengeluaran operasional bulanan, tetapi tetap mendapatkan kenyamanan tinggal dengan ventilasi (bukaan) yang baik dan cahaya matahari yang berlimpah.

Hunian dengan sertifikasi EDGE akan menjadi daya tarik (peluang bisnis) bagi para calon pembeli yang memahami nilai investasi jangka panjang yang akan diperoleh dari Hunian Hijau (bangunan hijau) seperti:

– Tagihan listrik & air lebih rendah.

– Harga jual kembali lebih tinggi.

– Gaya Hidup yang lebih nyaman, asri dan sehat.

– Menjadi kebanggaan bagi pemilik rumah ikut peduli untuk mengurangi dampak pemanasan global.

IFC (world bank group) telah menunjuk GBCI (Green Building Council Indonesia) untuk menjadi mitra untuk melakukan sertifikasi EDGE bagi Pengembang, pemilik rumah.

Bagaimana proses sertifikasi EDGE tersebut?

Proses sertifikasi terdiri dari 2 tahap yaitu Tahap Rancangan dan Tahap Konstruksi.

Ketika detil proyek dimasukkan kedalam piranti lunak EDGE. Proyek rumah (perumahan) harus mencapai standar EDGE sebesar 20% dari penghematan energi, air dan material (bahan bangunan) dibandingkan dengan ukuran praktek konstruksi pada umumnya.

Apabila standar tersebut dicapai, proyek baru dapat disertifikasi untuk memperoleh sertifikasi EDGE.

Proses Sertifikasi EDGE antara lain:

  1. TAHAP RANCANGAN
    1. Input Data Rancangan ke EDGE
    2. Pendaftaran Proyek
    3. Penyampaian Dokumen Rancangan.
    4. Kajian Auditor.
    5. Verifikasi oleh Mitra EDGE.
    6. Sertifikasi Awal.
  2. TAHAP KONSTRUKSI
    1. Input Data ke As-Built drawing ke EDGE
    2. Pendaftaran Proyek
    3. Penyampaian Dokumentasi AS-Built.
    4. Pemeriksaan oleh AUDITOR dan Audit Lapangan.
    5. Verifikasi oleh Mitra EDGE.
    6. Sertifikasi EDGE.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai EDGE silahkan membuka di:  http://edgebuildings.com

img-05

atau hubungi :

Rudi Binoto

E :  rudi@gbcindonesia.org

M : 083873115050

—————————–

GBC Indonesia

www.gbcindonesia.org

Jl. RC Veteran No.3A/1 Pesanggarahan Jakarta Selatan

Telp. 021-734077

(Gbr 1. BCI Asia Top 10 Architect 2016)

(Gbr 1. BCI Asia Top 10 Architect 2016)

BCI Asia kembali mengadakan BCI Asia Awards 2016, sebuah acara tahunan yang diadakan untuk memberikan apresiasi kepada pelaku-pelaku di bidang konstruksi bangunan gedung. Di Indonesia, penghargaan ini diberikan kepada  10 (sepuluh) firma arsitek dan 10 (sepuluh) pengembang Indonesia yang paling aktif selama tahun berjalan. Penghargaan tahun ini merupakan penghargaan ke-12 sejak awal dimulainya BCI Asia Awards pada tahun 2004. Pemberian penghargaan dilakukan di Hotel Fairmont Jakarta, pada tanggal 24 Mei 2016. Besaran nilai portfolio total dari para pemenang penghargaan ini mencapai 6,82 milyar USD untuk firma arsitek dan 1,89 milyar USD untuk pengembang. Selain dari besaran portfolio, poin yang dilihat dalam pemilihan pemenang adalah seberapa besar perusahaan tersebut menerapkan konsep berkelanjutan.

Untuk BCI Asia Top 10 Architects 2016 diraih oleh :

  1. Airmas Asri PT
  2. Anggara Architeam PT
  3. Arkonin PT
  4. Indomegah Cipta Bangun Citra PT
  5. Megatika International PT
  6. PDW Architects
  7. PTI Architects (Prada Tata Internasional PT)
  8. Quadratura Indonesia PT
  9. Sekawan DesignInc Arsitek PT
  10. Urbane Indonesia PT
(Gbr 2. BCI Asia Top 10 Developers 2016)

(Gbr 2. BCI Asia Top 10 Developers 2016)

Sedangkan untuk BCI Asia Top 10 Developers 2016 diraih oleh :

  1. Agung Podomoro Land Tbk PT
  2. Alam Sutera Realty Tbk PT
  3. Ciputra Group
  4. Intiland Development Tbk PT
  5. Lippo Group
  6. Pakuwon Jati Tbk PT
  7. Paramount Enterprise International PT (Paramount Land)
  8. Sinar Mas Land
  9. Summarecon Agung Tbk PT
  10. Wika Realty PT (Wijaya Karya Realty PT)

Selain Selain penghargaan BCI Asia Top 10 Awards,BCI Asia juga menyelenggarakan FuturArc Prize (kompetisi rancangan bangunan hijau) dan FuturArc Green Leadership Award (kompetisi bangunan hijau untuk proyek terbangun). Urutan pertama dan ketiga untuk Kategori Mahasiswa dalam FutureArc Prize 2016, yang diraih oleh mahasiswa Indonesia. Dalam kategori professional, Indonesia mendapatkan juara kedua dan ketiga. Sedangkan untuk FutureArc Green Leadership Award 2016, Environmental Education Center di Gunung Kidul rancangan Studio Akanoma menjadi salah satu pemenang (ang)

***

Suatu organisasi bernama Architecture 2030 mencanangkan suatu program bernama 2030 Challenges. Program tersebut menyatakan bahwa, pada tahun 2030 semua pembangunan gedung baru, pengembangan gedung lama, atau renovasi gedung, dalam masa pembangunan hingga operasi gedung harus bebas karbon.

NetZero-1

Dengan adanya program ini, gerakan untuk menciptakan bangunan yang benar-benar bebas karbon sedang digalakkan di seluruh dunia. Berbagai bangunan muncul dengan berbagai nama yang mengusung jargon bebas karbon. Secara global kita menyebutnya Zero Net Building. Namun apa saja yang termasuk kriteria Zero Net Building?

Menurut Environmental Protection Agency (EPA), konsep Zero Net terdiri dari 3 komponen yaitu:

  • Mencapai Net Zero Water, berarti membatasi konsumsi dari suatu sumber air, mengolah air hasil buangannya, dan menyalurkannya kembali ke sumber yang sama supaya tidak menghabiskan sumber daya air pada suatu tempat tertentu.
  • Mencapai Net Zero Energy, berarti menghasilkan energi dari sumber yang terbarukan, sebanyak energi yang diperlukan suatu bangunan selama satu tahun.
  • Mencapai Net Zero Waste, berarti mengurangi, menggunakan kembali, dan memperbaiki barang bekas dan bisa menambah nilai barang tersebut sehingga tidak perlu dibuang ke penampungan sampah.

Pada dasarnya, dalam mengaplikasikan Zero Net Building yang harus diperhatikan adalah bagaimana menyeimbangkan antara jumlah sumber daya yang dipakai dengan jumlah sumber daya yang dihasilkan. Sehingga desain bangunan akan memegang peranan yang sangat penting untuk mengurangi konsumsi sumber daya sebanyak mungkin, sehingga beban untuk menghasilkan sumber daya menjadi lebih ringan.

Beberapa metode diperlihatkan oleh beberapa gedung di seluruh dunia. Zero Carbon Building (ZCB) di Hong Kong mengurangi konsumsi listrik dengan berbagai metode desain pasif seperti ventilasi silang, penangkap angin, orientasi bangunan, high performance glazing, dan memakai peralatan-peralatan yang hemat energi sehingga bisa mengurangi konsumsi listrik hingga 45 % dibanding gedung pada umumnya. Dengan menghasilkan energi sebanyak 143 MWH per-tahun yang berasal dari 2 sumber, yaitu solar PV dan biogas, ZCB bisa memenuhi kebutuhan operasional listriknya selama satu tahun, bahkan bisa memberikan kelebihan listriknya kepada jaringan listrik pemerintah.

Zero Carbon Building Hong Kong

Zero Carbon Building Hong Kong

Seoul Energy Dream, Korea Selatan dengan memakai konsep yang holistik antara desain dan penggunaan teknologi yang tepat berhasil memangkas penggunaan energi hingga 84% lebih rendah dibandingkan rata-rata penggunaan energi pada gedung di Korea Selatan. Dengan sumber energi dari panel surya dan juga energi geothermal, menghasilkan listrik sebesar 280.000 kWh/tahun, menjadikan Seoul Energy Dream Center sebagai bangunan dengan konsumsi listrik secara tahunan yang disebut zero net energy consumption.

Seoul Energy Dream Center

Seoul Energy Dream Center

Bullit Center di Amerika Serikat selain mempunyai efisiensi energi yang tinggi, juga mempunyai metode penghematan air dan pengolahan air sehingga dapat diserapkan kembali ke dalam tanah. Dengan masa pakai bangunan yang mencapai 250 tahun, limbah konstruksi dari gedung akan sangat berkurang karena tidak harus menghancurkan dan membangun kembali gedung baru. Bullit Center bisa dibilang bangunan yang paling dekat dengan konsep Net Zero Building.

Bullit Center Building

Bullit Center Building

Pendekatan Net Zero Building ini sebagai generasi berikutnya dari green building akan sangat membantu untuk mengurangi karbon yang dihasilkan oleh bangunan.

Interview Nyoto Irawan

Tidak dapat dipungkiri, bahwa semangat DUSASPUN dalam mendukung penyelamatan lingkungan dan juga penerapan bangunan hijau terjadi berkat komitemen penuh dari pemimpin puncaknya. Nyoto Irawan, selaku Direktur Utama PT. Duta Sarana Perkasa (DUSASPUN) menjabarkan semangat beliau dalam usaha penyelamatan lingkungan dan penempatan manusia dalam urutan pertama dalam visi perusahaan melalui wawancara singkat dengan Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia)

Terimakasih pak sebelumnya untuk kesediaan waktu Bapak untuk wawancara ini.
Bapak sejak awal , sebagai salah satu Corporate Founder GBC Indonesia, aktif mendorong penerapan bangunan hijau di Indonesia. Apa yang mendorong Bapak sebagai pelaku industri untuk memberikan komitmen tinggi kepada penyelamatan lingkungan?

Ketika saya pertama berbicara dengan pak Patrick, 12 tahun lalu, pada saat beliau bekerja di Holcim, pembahasan saat itu adalah terkait sustainable construction, sustainable product dan ini membuat saya terketuk untuk mengetahui lebih lanjut tentang konsep tersebut sebab pada saat itu kedua hal ini belum pernah dibicarakan. Setelah itu, 5 tahun kemudian, keluar gagasan untuk pembentukan Green Building Council. Kita sepakat untuk ikut serta dan terlibat lebih banyak didalamnya. Pada saat pembuatan pondasi gedung ini (Dusaspun Gunung Putri.red),
” saya memiliki mimpi bahwa kita nantinya bisa mem-provide tempat kerja yang nyaman, enak, bagi karyawan kita bisa berkreasi. Dan itu akan menjadi suatu legacy yang suatu hari saya tinggalkan”

Sehingga ketika konsep itu pertama dibuat, banyak sekali penyesuaian perlu dilakukan dan itu memakan waktu lama. Pembangunan yang sebelumnya direncanakan dengan konvensional diubah dengan memakai pre-cast. Dan itu kita lakukan. Saya ingin mencapai sesuatu yang dapat kita berikan kepada karyawan kita sehingga beberapa tahun kemudian timbulah visi baru, konsep baru. Karena di Indonesia kebanyakan yang dipentingkan adalah keuntungan perusahaan, kemajuan perusahaan, perkembangan perusahaan serta kepentingan dari stakeholder. Sekarang ini kita balik, karyawan menjadi yang terdepan. Ini yang membuat saya komit untuk membangun gedung ini.

Ini baru tahap pertama dari mimpi bapak, untuk tahap selanjutnya apa yang akan dilakukan?

Mimpi itu tidak bisa dibangun hari ini, masih banyak pekerjaan rumah. Kenapa visi yang dicanangkan adalah visi 2020? Kita masih ada 5 tahun untuk merubah kultur kerja. Tadi saya sebutkan bahwa kita akan mendidik orang, bukan hanya dari segi skill, pengetahuan atau teknik saja tetapi lebih pada karakter. Pak Jokowi bilang Revolusi Mental, sedangkan kita sebelum beliau bicara itu kita sudah membicarakan pembangunan karakter yaitu meningkatkan komitmen karyawan. Integritas. Karena kita bekerja itu bukan hanya masalah uang saja. Ketika kita bekerja, uang itu bukan untuk saya sendiri, tetapi untuk semua teman-teman yang bekerja di sini. Yang kita impikan, karyawan bekerja bukan hanya diri mereka dan keluarga mereka sendiri, tetapi sebagai satu kesatuan dengan karyawan lain yang bekerja di sini. Suatu hari pada tahun 2020, kita akan mendapatkan orang-orang dengan jiwa kepemimpinan dan integritas tinggi. Mimpi saya, semua orang Indonesia bisa berubah. Saya waktu itu ditanya, kenapa misi 2020 perlu waktu sampai 5 tahun. Saya jawab, bahwa mengubah sesuatu itu tidak seperti membalikkan telapak tangan. Di DUSASPUN ini orang yang sudah kerja 10, 20, 30 tahun lebih itu totalnya ada 600 lebih. Yang 30 tahun lebih ada 22 orang. Sedangkan ketika saya memulai 34 tahun lalu total karyawannya 40 orang. Jadi bagaimana integritas mereka kita bangun. Integritas tidak bisa dibangun dengan pendekatan personal, melainkan melalui institusi. Budaya perusahaan dibuat seperti sekarang. Green team terdiri dari anak-anak muda, dan saya menjalankan semua sesuai dengan aturan. Saya ikuti. Walau ada beberapa kriteria yang menurut saya sulit, tapi saya bilang ikuti. Nanti setelah selesai baru kita berikan masukan (ang)